MP3 MAJELIS RATIB IMDADUL HADDADI

Rabu, 19 Desember 2012

Habib Abdullah bin Ali Al Haddad ( Bangil )

Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad adalah ulama besar pada zamannya. Beliau menuntut ilmu dari beberapa ulama, kuat beribadah, dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah swt. Ulama yang dikenal sangat alim, dan karenanya dikenal sebagai Waliyullah itu lahir pada 4 safar 1261 H atau 12 Februari 1840 M di kota Hawi, Tarim ( Hadramaut, Yaman ). Hadramaut memang dikenal sebagai "lahan subur" bagi pesemaian para ulama besar dan wali.
Habib Abdullah yang di Indonesia lebih popular dengan sebutan Habib Kramat Bangil terkenal di kalangan kaum muslimin sebagai ulama yang konsisten memperjuangkan kebenaran. Di masa hidupnya, tak jemu-jemu beliau mengajak umat untuk selalu hidup di jalan yang benar sesuai dengan ajaran Al-Qur'an dan Sunah Rasul.
Seperti lazimnya para ulama, Habib Abdullah juga menulis sejumlah kitab. Bukan hanya menulis kitab agama, beliau juga menulis syair yang bermuatan hikmah. Kumpulan syairnya dibukukan dalam bentuk Diwan ( antologi ) berjudul Qalaid Al-Lisan fi Ahl Al-Islami wa Al-Iman.
Sementara kitab yang ia tulis, antara lain, Suliamuthalib li Alal Maratib, Syarah Ratib Haddad, Hujjatul Mukminin fi Tawasul Bisayid Al-Mursalin dan kitab Maulid Al-Haddad, dll. Dan sebagai penghormatan kepadanya, setiap 27 safar digelarlah acara haul di makamnya di Sangeng Kramat, Bangil, Jawa Timur.
Beliau dibesarkan dalam keluarga yang akrab dengan nuansa kenabian, kewalian dan keilmuan. Sejak kecil, beliau mendapat bimbingan membaca, mempelajari dan menghafal Al-Qur'an dari ayahandanya Al 'Alamah Habib Ali bin Hasan Al-Haddad, sehingga alam pikirannya selalu terpaut dengan Al-Qur'an.
Menjelang dewasa, beliau meneruskan study di kota kelahirannya, Tarim. Di sanalah beliau mengenyam beberapa cabang ilmu, seperti tafsir, fiqih, hadits dll dari para ulama terkemuka. Guru-gurunya antara lain :
• Mufti Habib Al 'Allamah Abdurrahman Al-Masyhur ( pengarang kitab Bughayat al-Mustarsyidin .)
• Habib Umar bin Hasan Al-Haddad di Ghurfah.
• Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi di Sewun.
• Habib Muhsin bin Alwi Assegaf.
• Habib Muhammad bin Ibrahim Bilfaqih.
Dalam hal tasawuf, beliau berguru kepada Al 'Allamah Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang terkenal sebagai pendiri Tarekat Haddadiyah. Beberapa tahun setelah belajar kepada guru tasawufnya itu, beliau juga dikenal sebagai sufi terkemuka dan seorang mursyid di kalangan Tarekat Haddadiyah.
Pada tahun 1281 H / 1860 M, beliau meninggalkan kampong halaman menuju kota Do,an dan Gidun untuk berguru kepada beberapa ulama, seperti Habib Thohir bin Umar Al-Haddad dan Syekh Muhammad bin Abdullah Basuwaidan. Kepada mereka, Habib Abdullah mempelajari kitab Minhaj Al-Thalibin karya Imam Nawawi. Tak lama kemudian, beliau mendapat ijazah untuk beberapa cabang ilmu, seperti Aqidah, Nas ( pegangan dalam hokum islam ), ilmu Ushul ( pokok-pokok ilmu pengetahuan tentang ilmu fiqih ), periwayatan hadits dan logika.
Sebagai Ulama yang haus ilmu, pada 1294 H / 1873 M, beliau meneruskan perjalanan ke Guairah untuk berguru kepada Al'Alamah Al-'Arif billah Habib Ahmad bin Muhammad Al-Mukhdar. Dari ayahanda Habib Muhammad bin Ahmad Al-Mukhdar ( Bondowoso, Jawa Timur ), beliau mendapat ijazah untuk beberapa cabang ilmu pengetahuan.
Pada salah satu mukadimah ijazahnya, disebutkan, "Aku berikan ijazah kepada keturunan Al-Quthb Al-Ghouts, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, seorang ahli ibadah yang tampak di wajahnya cahaya ulama salaf. Kelak, dia akan menggantikan kedudukan salaf pendahulunya dan aku anggap dia sebagai anakku."
Pada tahun 1295 H / 1874 M, beliau menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah saw. Selama berada di Makkah, beliau tinggal di rumah mufti Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi ( ayahanda Al-Imam Al-'Allamah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi ), penyusun Simtud Duror. Sementara, di kota Jarwal, beliau mempelajari, antara lain, ilmu Nahwu ( tata kalimat ) dan mantik ( logika ), sehingga memperoleh ijazah dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan.
Tak lama kemudian, beliau menuju ke Madinah. Tinggal empat bulan disana, beliau berguru pada Syekh Muhammad Abdul Mukti bin Muhammad al-Azab, seorang faqih dan pakar bahasa arab. Tapi beliau tidak mendapat ijazah, sebelum mendapat ijazah dari Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Setelah mendapat ijazah dari Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berupa wirid dan kitab-kitab karangannya, barulah beliau memperoleh ijazah dari Syekh Muhammad Abdul Mukti.
Setelah "kenyang" dengan ilmu, pada 1297 H / 1876 M, beliau mulai berdakwah ke tanah Melayu. Mula-mula ke Singapura, lalu ke Johor. Disana, beliau bersahabat dengan Sayyid Salim bin Thaha Al-Habsyi dan Sultan Abu Bakar bin Ibrahim yang saat itu menjadi Sultan Johor. Ketika menghadiri peresmian istana Kesultanan Johor, beliau ditemui oleh Sultan Ahmad dari Padang dan diminta untuk menjadi disana. Namun, Habib Abdullah menolak dengan baik.
Setelah kurang lebih empat tahun berdakwah di Johor, beliau meneruskan perjanan dakwahnya ke Jawa, Indonesia. Mula-mula, beliau tiba di Batavia, kemudian meneruskan ke Bogor, Solo dan Surabaya. Di kota-kota tersebut, beliau merasa kurang nyaman, walaupun kaum muslimin setempat menyambutnya dengan antusias. Pada akhir syawal 1301 H, beliau tiba di Bangil, Jawa Timur. Disinilah beliau merasakan kenyamanan dan pada akhirnya menetap untuk berdakwah. Setiap hari, selepas asar, beliau menggelar Rahah ( pengajian ), dan setiap kamis mengisi majelis taklim di Masjid Kalianyar.
Beliau mengisi hari-harinya dengan ibadah. Sejak magrib hingga menjelang isya, beliau selalu membaca Al-Qur'an dengan hafalan. Selepas shalat Isya berjemaah, beliau beristirahat selama dua jam, dan setelah itu membaca ratib bersama anak dan para sahabatnya. Kemudian, beliau menyelenggarakan muthala'ah ( menelaah ) sampai pukul 24.00.
Dua jam kemudian, beliau beristirahat lalu shalat Sunah, dan setelah itu berkeliling kota Bangil.pukul 03.00 dinihari pulang, lalu shalat Tahajud hingga menjelang fajar. Setelah shalat Subuh berjemaah dengan keluarga, beliau membaca wirid sampai menjelang waktu dhuha, lalu sholat dhuha delapan raka'at. Begitulah amalan Ulama besar ini setiap hari.
Pada suatu malam, ketika berjalan mengelilingi kota Bangil, beliau bertemu dengan seorang anggota hansip. "Kenapa malam-malam begini Habib keliling di jalanan?".tanya hansip keheranan.
"Mengapa kamu juga berada di pos penjagaan ini?" Habib Abdullah kembali bertanya.
"Kami ditugasi oleh Pak Camat menjaga daerah sekitar ini." Jawab Hansip.
Maka Habib Abdullah pun menimpali, "Saya mendapat tugas dari penguasa alam semesta."
Suatu hari, beliau membacakan kitab-kitab karangan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad di Masjid Kalianyar. Setiap kali hadir di majelis taklim yang dihadiri kurang lebih 60 orang itu, beliau biasa membawa ketel kecil berisi kopi. Usai pengajian, menjelang magrib, dihidangkanlah kopi untuk para jemaah. Kopi itu cukup untuk 60 orang yang hadir.
Suatu hari, tanpa diduga, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar bersama rombongan sebanyak 60 orang berkunjung ke majlis taklim tersebut. Habib Abdullah pun minta Syekh Mubarak Jabli menuangkan kopi dan menghidangkannya kepada mereka. Setelah menuangkan kopi ke beberapa cangkir, ternyata kopinya habis, dan ia berhenti menghidangkan kopi.
"Tuangkanlah lagi kopinya." Kata Habib Abdullah.
Dengan bingung, Syekh Mubarak berbisik kepada Habib Muhammad, putra Habib Abdullah, "Ketelnya sudah kosong."
Tapi kata Habib Muhammad, "Turuti saja perintahnya."
Maka Syekh Mubarak pun kembali mencoba menuangkan kopi ke cangkir-cangkir dari ketel kosong itu. Tapi betapa terkejut manakala dilihatnya, atas izin Allah swt, dari ketel kosong tetap mengucur kopi hangat hingga seluruh tamu kebagian.
Suatu sore, seorang bangsawan Bugis dari Makassar bertandang ke Bangil, dan menghadiahkan sebuah peti dari emas berisi kayu gaharu, dan sejumlah besar uang untuk Habib Abdullah. Sebelum menerima hadiah, beliauu bertanya, "Apakah di negerimu ada orang yang berhak menerima sedekah?"
Bangsawan itu berkata, "ya, ada."
Maka Habib Abdullah berkata pun minta agar hadiah itu dibagi-bagikan kepada faqir miskin di Makassar.
"Alhamdulillah, kami dalam keadaan mampu." Ujar Habib Abdullah seraya menunjuk sebuah karung penuh uang emas. Maka sang bangsawan Bugis itu pun segera mohon maaf dan berjanji melaksanakan amanatnya. Habib Abdullah memang dikenal sangat dekat dengan faqir miskin. Setiap bulan, beliau membantu sekitar 70 keluarga miskin.
Suatu hari Residen Pasuruan dating ke Bangil. Begitu ia turun dari kereta berkuda, semua orang berdiri menghormatinya. Kebetulan saat itu, Habib Abdullah berada disitu, mengantar pamannya, Habib Ahmad bin Hasan Al-Haddad, hendak pulang ke Surabaya. Ketika sang Residen lewat persis di depan Habib Abdullah, ia tidak mengindahkannya. Ia tetap duduk santai, tidak berdiri menghormatinya.
Maka datang seorang anggota polisi memerintahkannya datang ke kantor Residenan Pasuruan. Tanpa pikir panjang, beliau pun berangkat kesana. Sampai disana, beliaupun menunggu di ruang depan, tapi tak seorangpun petugas pun menemuinya. Anehnya, bahkan ada beberapa petugas yang lari ketakutan ketika melihat kehadiran Habib Abdullah.
Akhirnya, seorang pegawai Karisidenan menemuinya sambil berkata gemetara, "Sebaiknya Habib kembali saja, sebab Residen dan semua stafnya takut melihat Habib yang didampingi dua ekor harimau dengan mulut terbuka."
Setelah kejadian itu, Sang Residen meletakkan jabatan.
Suatu hari, Sayid Umar Syatta, Mufti Haramain dari Mekah, menerima ru'yah ( penampakan dalam mimpi ) bahwa Rasulullah saw menganjurkannya untuk menemui Habib Abdullah bin Ali Al-Haddad.
"Dia adalah cucuku yang sebenarnya." Kata Nabi saw dalam ru'yah tersebut. Dalam perjumpaan itu, Sayyid Umar Syatta menciumi lutut dan kaki serta minta maaf kepada Habib Abdullah, karena tidak tahu kedudukan Habib Abdullah; jika Nabi saw tidak memberitahukannya.
Ada satu hal yang selalu beliau tekankan kepada murid-muridnya, juga dalam tulisan di beberapa kitabnya. Beliau selalu mengajarkan untuk berprilaku tawaduk ( rendah hati ), tidak takabur, sombong dan ria. Sebab, kata habib Abdullah, semua itu adalah sifat-sifat setan.

Karomah Habib Soleh bin Muhsin Al Hamid (Tanggul, Jakarta)





Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid yang paling kanan.

Membicarakan karamah Habib Sholeh tidak bisa lepas dari peristiwa yang mempertemukan dirinya dengan Nabi Khidir AS. Kala itu, layaknya pemuda keturunan Arab lainnya, orang masih memanggilnya Yik, kependekan dari kata Sayyid, yang artinya Tuan, sebuah gelar untuk keturunan Rasulullah.


Suatu ketika Yik Sholeh sedang menuju stasiun Kereta Api Tanggul yang letaknya memang dekat dengan rumahnya. Tiba-tiba datang seorang pengemis meminta uang. Sholeh yang sebenarnya membawa sepuluh rupiah menjawab tidak ada, karena hanya itu yang dimiliki. Pengemis itupun pergi, tetapi kemudian datang dan minta uang lagi. Karena dijawab tidak ada, ia pergi lagi, tetapi lalu datang untuk ketiga kalinya. Ketika didapati jawaban yang sama, orang itu berkata, “Yang sepuluh rupiah di saku kamu?” seketika Yik Sholeh meresakan ada yang aneh. Lalu ia menjabat tangan pengemis itu. Ketika berjabat tangan, jempol si pengemis terasa lembut seperti tak bertulang. Keadaan seperti itu, menurut beberapa kitab klasik, adalah cirri fisik nabi Khidir. Tangannyapun dipegang erat-erat oleh Yek Sholeh, sambil berkata, “Anda pasti Nabi Khidir, maka mohon doakan saya.” Sang pengemispun berdoa, lalu pergi sambil berpesan bahwa sebentar lagi akan datang seorang tamu.Tak lama kemudian, turun dari kereta api seorang yang berpakaian serba hitam dan meminta Yik Sholeh untuk menunjukkan rumah habib Sholeh. Karena di sekitar sana tidak ada yang nama Habib Sholeh, dijawab tidak ada. Karena orang itu menekankan ada, Yik Sholeh menjawab, “Di daerah sini tidak ada, tuan, nama Habib Sholeh, yang ada Sholeh, saya sendiri, “Kalau begitu andalah yang saya cari,” jawab orang itu lalu pergi, membuat Yik Sholeh tercengang.


Sejak itu, rumah Habib Sholeh selalu ramai dikunjungi oraang, mujlai sekedar silaturrahmi, sampai minta berkah doa. Tidak hanya dari tanggul, tetapi juga luar Jawa bahkan luar negeri, seperti Belanda, Afrika, Cina, Malaysia, Singapura dan lain-lain. Mantan wakil Presiden Adam malik adalah satu dari sekian pejabat yang sering sowan kerumahnya. Satu bukti kemasyhuran beliau, jika Habib Sholeh ke Jakarta, menjemputnya bejibun, melebihi penjemputan Presiden,” ujar KH. Abdillah yang mengenal dengan baik Habib, menggambarkan.


KH.Ahmad Qusyairi bin Shiddiq adalah sahabat karib habib. Dulunya Habib Sholeh sering mengikuti pengajian KH. Ahmad Qusyairi di Tanggul, tetapi setelah tanda-tanda kewalian Habib mulai menampak, ganti KH. Qusyairi yang mengaji kepada Habib.


Menjelang wafat, KH. Qusyairi sowan kepada Habib. Tidak seperti biasa, kala itu sambutan Habib begitu hangat, sampai dipeluk erat-erat. Habib pun mnyembelih seekor kambing khusus menjamu sang teman karib. Disela-sela bercengkrama, Habib mengatakan bahwa itu terakhir kali yang ia lakukan. Ternyata beberapa hari kemudian KH. Qusyairi wafat di kediamannya di Pasuruan.


Tersebutlah seorang jenderal yang konon pernah mendapat hadiah pulpen dari Presiden AS D. Esenhower. Suatu ketika pulpen itu raib saat dibawa ajudannya kepasar (kecopetan). Karuan saja sang ajudan kalang kabut, sehingga disarankan oleh seorang kenalannya agar minta tolong ke Habib Sholeh.


Sampai di sana, Habib menyuruh mencari di Pasar Tanggul. Sekalipun aneh, dituruti saja, dan ternyata pulpen itu tidak ditemukan. Habib menyuruh lagi, lagi-lagi tidak ditemukan. Karena memaksa, Habib masuk kedalam kamarnya, dan tak lama kemudian keluar dengan menjulurkan sebuah Pulpen. “Apa seperti ini pulpen itu? Sang ajudan tertegun, karena ternyata itulah pulpen sang jenderal yang sudah pindah ke genggaman pencopet.


Nama Habib Sholeh kian terkenal dan harum. Kisah-kisah yang menuturkan karamah beliau tak terhitung. Tetapi perlu dicatat, karamah hanyalah suatu indikasi kewalian seseorang. Kelebihan itu dapat dicapai setelah melalui proses panjang yaitu pelaksanaan ajaran Islam secara Kaffah. Dan itu dilakukan secara konsekwen dan terus menerus (istiqamah), sampai dikatakan bahwa Istiqamah itu lebih mulia dari seribu karamah.


Tengok saja komitmen Habib terhadap nilai-nilai keislaman, termasuk keperduliannya terhadap fakir miskin, janda dan anak yatim, menjadi juru damai ketika ada perselisihan. Beliau dikenal karena akhlak mulianya, tidak pernah menyakiti hati orang lain, bahkan berusaha menyenangkan hati mereka, sampai-sampai dikenal tidak pernah permintaan orang. Siapapun yang bertamu akan dijamu sebaik mungkin. Habib Sholeh sering menimba sendiri air sumur untuk mandi dan wudu para tamunya.


Maka buah yang didapat, seperti ketika Habib Ahmad Al-Hamid pernah berkata kepada baliau, kenapa Allah selalu mengabulkan doanya. Habib Sholeh menjawab, “Bagaimana tidak? Sedangkan aku belum pernah melakukan hal yang membuat-Nya Murka.”

Ratib Al-Haddad

الرَاتِب الشَّهِير الإمام القطب عبد الله بن علوي الحداد

الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم

- الفاتحة-

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ.

آمِيْنِ

. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ  وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.

آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ  قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ  تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  (3x)

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ الله وَاللهُ اَكْبَرُ (3x)

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ.  (3x)

 رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ (3x)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ.  (3x)

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (3x)

بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ  (3x)

رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا  (3x)

بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ  (3x)

آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا (3x)

يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا  (3x)

ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ  (7x)

ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ  إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ  (3x)

أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (3x)

يـَا عَلِيُّ   يـَا كَبِيْرُ يـَا  عَلِيْمُ  يـَا قَدِيْرُ يـَا سَمِيعُ يـَا (3x) بَصِيْرُ يـَا لَطِيْفُ  يـَا خَبِيْرُ

ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ (3x)

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ (3x)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (49x)

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ. وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ اَهْلِ بَيْتِهِ الْمُطَهِّرِيْنَ وَاَصْحَابِهِ الْمُهْتَدِيْنَ وَالتَّا بِعِيْنَ لَهُمْ بِااِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِالدِّ يْنِ

بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ

. وَلَمْ يَكُـنْلَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ

بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ،  مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.

اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.

اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ - أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.

اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.

اَلْفَاتِحَة

إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ

(ويدعو القارئ)

اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـار.

Rattib Al-Attas

اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ...) الخرسُوْرَةُ الْفَاتِحَة
اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (3)
 ( لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْمِ
 اَعُوْذُبِاللهِ السَّمِيْحِ اْلعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (3)
 اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (3)
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرُّمَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (ثلاثا)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (عَشْرًا)
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (ثَلاَثًا)
 بِسْمِ اللهِ تَحَصَّنَّا بِاللهِ.بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا بِاللهِ (ثَلاَثًا)
 بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ (ثَلاَثًا) سُبْحَانَ اللهِ عَزَّاللهِ. سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهِ (ثَلاَثًا)
 سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (ثَلاَثًا)
 سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ (اَرْبَعًا)
 يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ. اُلْطُفْ بِنَايَالَطِيْفُ,يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرً (ثلاثا)
 يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَافِيْمَانَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَاوَ الْمُسْلِمِيْنَ (ثَلاَثًا)
 لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ (اَرْبَعِيْنَ مَرَّةً)
 مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (سبعا)
 اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (عَشْرًا)  اَسْتَغْفِرَاللهَ (اا مَرَّةً).
 تَائِبُوْنَ اِلَى اللهِ (ثَلاَثًا)
 يَااَللهُ بِهَا.يَااَللهُ بِهَا يَااَللهُ بِحُسْنِ اْلخَاتِمَةِ (ثَلاَثً)

غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ لاَيُكَلِفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسُعَهَا لَهَا مَا اكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَ نَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَا فِرِيْنَ.

Kemudian membaca :

اَلْفَاتِحَةُ
 اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَاوَ حَبِيْبِنَاوَ شَفِيْعِنَ رَسُوْلِ اللهِ , مُحَمَّدِ بِنْ عَبْدِاللهِ , وَاَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ , اَنَّ اللهَ يُعْلىِ دَرَجَاتِهِمْ فِى اْلْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِ هِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآ خِرَةِ وَيَجْعَلُنَا مِنْ حِزْ بِهِمْ وَيَرْزُ قُنَا مَحَبَّتَهُمْ وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَافِى زُمْرَ تِهِمْ . فِى خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ , بِسِرِ الْفَا تِحَةْ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الْمُهَا جِرْ اِلَى اللهِ اَحْمَدْ بِنْ عِيْسَى وَاِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَااْلاُ سْتَاذِ اْلاَعْظَمِ اَلْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ , مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بَاعَلَوِيْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ , وَذَوِىْ الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّ اللهَ يَغْفُرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ , وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَاوَاْلاَخِرَةِ . اَلْفَا تِحَةُ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَبَرَكَاتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلاَنْفَاسِ اَلْحَبِيْبِ عُمَرْ بِنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ الْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ الشَّيْخِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَبْدُالرَّحْمَنِ بِنْ عَقِيْل اَلْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب حُسَيْن بِنْ عُمَرْ اَلْعَطَّاسْ وَاِخْوَانِهِ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ عَقِيْل وَعَبْدِ اللهِ وَصَا لِحْ بِنْ عَبْدُالرَّحْمَنِ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَلِيِّ بْنِ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب اَحْمَدْ بِنْ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّاللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَا تِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَنَفَحَا تِهِمْ فِى الدِّ يِنِ وَالدُّ نْيَاوَاْلآخِرَةِ )اَلْفَا تِحَةْ(
اَلْفَاتِحَةُ
اِلَى اَرْوَحِ اْلاَوْالِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّا لِحِيْنَ . وَاْلاَ ئِمَّةِ الرَّاشِدِ يْنَ وَاِلَى اَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَا يِخِنَا وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ , ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَمْوَاتِ اَهْلِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَنَّ اللهَ يَغْفِرُلَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ اَسْرَ ارِهِمْ وَانْوَ ارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّ نْيَا وَاْلآ خِرَةِ . اَلْفَاتِحَةْ.

Asal Sesuatu dari Cahaya Nabi SAW

Puji dan syukur Lillahi Akbar

Atas nikmatnya kecil dan besar

Sholawat akmal beserta salam

Di atas Nabi pelita alam

Dan atas keluarganya Nabi

Fathimah, Hasan, Husein dan Ali

Dan turunannya Hasan dan Husein

Hingga kiamat beserta Qur’an

Sebelum sesuatu terjadi

Allah jadikan cahyanya Nabi

Allah jadikan dari cahya-Nya

Nur Nabi Muhammad kekasih-Nya

Dan segenap para Nabi-Nabi

Dijadikan dari cahaya Nabi

Demikian pun Arsy dan Kursi

Luh, Qolam, Syurga, Bidadari

Dan langit, bumi, bulan dan bintang

Dan matahari yang sangat terang

Dan lain-lain makhluk-Nya Robbi

Asal mula dari cahaya Nabi

Jika tak karna wujudnya Nabi

Tak ada Syurga dan Bidadari

Tak ada Arsy, Luh dan Qolam

Tak ada Kursi tak ada Alam

Tak ada dunia, langit dan bumi

Tak bulan, bintang dan matahari

Tak ada malam tak ada siang

Tak ada gelap tak ada terang

Tak ada manusia dan hewan

Tak emas, perak, intan, berlian

Seluruh itu Allah siapkan

Karna Nabi akan didzohirkan

Didzohirkan Nabi karna rahmat

Bagi seluruh alam dan umat

 

 Dikutip dari Kitab BUNGA MELATI Karangan : Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf