MP3 MAJELIS RATIB IMDADUL HADDADI
Selasa, 09 Agustus 2011
MENGGAPAI LAILATUL QADAR
Siapapun dari kita , apapun profesi dan pangkat kita baik Miskin maupun kaya sebagai umatnya Nabi Muhammad saw punya kesempatan yang sama untuk menggapai Lailatul Qadar, Jika alloh telah memilih kita untuk berjumpa dengan Lailatul qadar maka sungguh suatu peristiwa yang sangat luar biasa dan keberuntungan bagi kita. Kenapa Alloh swt merahasiakan Lailatul qadar ?? hal ini semata mata agar kita memiliki semangat ibadah dan memperbanyak membaca Alquran, Sholat Tahajut, Dzikir serta ibadah ibadah lainnya. Dengan memperbanyak ibadah kepada Alloh akan semakin dekatlah kita dengan Alloh dan akan menambah kecintaan kita dengan Alloh, bagaimana kita akan dipilh Alloh untuk menjumpai Lailatul qadar kalau tidak ada kesungguhan dalam diri kita untuk memperbanyak Ibadah dan terlalu di sibukkan oleh segala urusan dunia.
Lailatul Qadar yang artinya “Malam ketetapan” juga memiliki arti “Malam Mulia dan agung “di namakan demikian karena malam itu merupakan malam yang mulia dan agung yang pada malam tersebut Allah menetapkan berbagai perkara penuh hikmah yang terjadi sepanjang tahun seperti Azal kita, rizqi kita dan lain sebagainya.
Keutamaan- keutamaan Laitul Qadar berdasarkan surat al-Qadar adalah sebagai berikut:
1 .Bahwasanya Alquran diturunkan Allah pada malam tersebut , agar manusia dapat mengambil petunjuk untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
2. Dalam ayat yang kedua Surat Al qadar Alloh memberikan sebuah pertanyaan yang artinya “Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” hal ini Menunjukkan kebesaran dan keagungan malam tersebut.
2. Pada malam itu lebih baik daripada seribu bulan dalam hal kemuliaan dan keutamaannya dalam beribadah kepada Alloh swt
3. Pada malam itu para malaikat turun, dengan membawa kebaikan, keberkahan dan rahmat bagi penduduk bumi
4. Pada Malam itu penuh dengan keselamatan karena banyak orang yang diselamatkan oleh Allah dari siksa dan adzab disebabkan mereka melakukan berbagai macam ketaatan kepada Allah di malam itu hingga pagi/fajar.
Tentang waktu Lailatul qadar para ulama sepakat bahwa Lailatul Qadr tidak terjadi pada malam tertentu secara khusus dalam setiap tahunnya, namun berubah-ubah dan berpindah-pindah. Mungkin pada suatu tahun terjadi pada malam dua puluh tujuh dan pada tahun yang lain terjadi pada malam dua puluh lima, dan demikian seterusnya sesuai dengan kehendak Allah swt dan hikmah-Nya. hal Ini ditunjukkan dalam sebuah Hadist Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Buchori yang berbunyi, “Carilah Lailatul Qadar pada sembilan terakhir, atau tujuh terakhir, atau lima terakhir.” (HR. al-Bukhari). Dan kebanyakan dari umat Nabi Muhammad saw intensitas ibadah menjelang akhir Ramdhan makin menurun dan makin di sibukkan dengan keperluan persiapan menjelang lebaran/Idul Fitri , Ibadah sudah tidak fokos dan khusu’ yang ada dalam benaknya bagaimana nanti Mudik, membeli baju baru untuk keluarga, mempersiapkan makan dan lain lain . Karena kesuksesan ibadah Ramadhan kita adalah nanti ketika kita memasuki bulan syawal, jika Ramadhan kita gemar membaca Alquran maka memasuki bulan syawal kita akan semakin rajin membaca Alquran , Jika di bulan Ramadhan kita gemar bersodaqoh maka di bulan syawalpun kita akan semakin rajin bersadaqoh dan Alloh akan memberikan Predikat kepada kita “Laallakum Tattakun ” sebagai hamba Alloh yang bertaqwa itulah tujuan dari pada ibadah kita di bulan Ramadhan mencetak kita sebagai Hamba hamba Alloh yang bertaqwa.
Bagaimana Kiat kiat kita untuk menggapai Lailatul Qadar? .
1. Menjaga Puasa kita dari hal hal yang dapat merusak ibadah puasa seperti menjaga lisan kita dari dusta, ghibah , namimah dan hasud, dan menjaga seluruh anggota tubuh kita dari hal hal yang di haramkan Alloh.
2. Memperbanyak membaca alquran sebagai sarana komunikasi kita dengan Alloh
3. Menghidupkan sholat malam baik Sholat Taraweh maupun Tahajut sebagai sarana kita mendekatkan diri kepada Alloh swt
4. Perbanyak Dzkir dan berdoa kepada Alloh dengan sungguh sungguh
5. Melakukan I’tikaf sekuat tenaga ini yang dilakukan Rasululloh saw menjelang 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.
Dan mudah mudahan kita semua dapat menggapai Lailatul qadar dan menjadi hamba hamba Alloh yang dipilh alloh untuk dapat berjumpa dengan Lailatul qadar.
Senin, 08 Agustus 2011
Selasa, 10 Mei 2011
Jumat, 08 April 2011
Berdiri di Hari Kiamat
abul-Laits dengan sanadnya meriwayatkan dari Aisyah r.a. berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah s.a.w., Apakah yang cinta itu ingat pada kekasihnya pada hari kiamat?” Jawab Rasullullah s.a.w.: “Adapun di tiga tempat (masa) maka tidak ingat yaitu ketika ditimbang amal sehingga diketahui apakah ringan atau berat, ketika menerima lembaran catatan amal (suhuf) sehingga ia terima imma dari kanan atau dari kiri, dan ketika keluar dari neraka ular lalu mengepung mereka dan berkata, “Aku diserahi tiga macam: Orang mempersekutukan ALLAH SWT dengan yang lain, orang yang kejam, penentang, zalim, dan orang yang tidak percaya pada hari kiamat (hisab),” maka diringkus semua orang-orang tersebut itu lalu dilemparkan semuanya dalam neraka jahannam, dan di atas neraka jahannam itu ada jambatan yang lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang, sedang di kanan kirinya bantolan dan duri-duri, sedang orang-orang yang berjalan diatasnya ada yang bagaikan kilat, dan bagaikan angin kencang, maka ada yang selamat, dan ada yang luka terkena bantolan duri, dan ada yang terjerumus muka ke dalam neraka.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Diantara dua kali tiupan sangkakala itu jarak empat puluh tahun (Tiupan untuk mematikan dan membangkitkan semula). Kemudian ALLAH SWT menurunkan hujan air bagaikan mani orang lelaki, maka timbul-lah orang-orang mati bagaikan timbulnya tanaman (sayur-sayuran).”
Abul-Laits juga telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ketika ALLAH SWT telah selesai menjadikan langit dan bumi, ALLAH SWT menjadikan sangkakala dan diserahkan kepada Malaikat Israfil, maka ia meletakkannya di mulutnya sambil melihat ke ‘Arasy menantikan bilakah ia diperintahkan.” Saya bertanya: “Ya Rasulullah, apakah shur (sangkakala) itu?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya bertanya lagi: “Bagaimana besarnya?” Rasullullah s.a.w. menjawab: “Sangat besar bulatannya, demi ALLAH yang mengutusku sebagai Nabi s.a.w. besar bulatannya itu seluas langit dengan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali yaitu pertama Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan), Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan) dan Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”
Dalam riwayat Ka’ab hanya dua kali tiupan, yaitu mematikan dan membangkitkan. Firman ALLAH SWT yang berbunyi: “Wa yauma yunfakhu fafazi’a man fissamawati waman fil ardhi illa man sya ALLAH, (Yang artinya): “Dan pada hari ditiup sangkakala maka terkejut takut semua yang di langit dan yang di bumi, kecuali yang dikehendaki oleh ALLAH” (Surah An-Naml : 87)
Dan pada saat itu tergoncangnya bumi, dan manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya dan yang menyusui lupa terhadap bayinya, dan anak-anak segera beruban dan setan-setan laknatullah berlarian. Maka keadaan itu berlaku beberapa lama, kemudian ALLAH SWT menyuruh Israfil meniup sangkakala kedua.
Firman ALLAH SWT yang berbunyi: “Wa nufikhafishshuri fasha’iqa man fissamawati waman fil ardhi illa man sya ALLAH Tsumma nufikha fihi ukhra fa idza hum qiyamun yandhurun,” (Yang artinya): “Dan ketika ditiup sangkakala maka matilah semua yang dilangit dan bumi kecuali yang dikehendaki ALLAH, kemudian ditiup lagi, tiba-tiba mereka bangun dan melihat.” (Surah Azzumar : 68)
Mereka yang dikecualikan itu ialah roh orang-orang yang mati syahid, Jibril, Mika’il, Israfil, dan Hamalatul Arsyi, serta Malaikat maut, sehingga ketika ditanya oleh ALLAH SWT: “Siapakah yang masih tinggal dari makhluk-Ku?” Padahal ALLAH SWT lebih mengetahui. Jawab Malaikat maut: “Ya Tuhan, Engkau yang hidup, yang tidak mati, tinggal malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, Hamalatul Arsyi, dan aku.” Maka ALLAH SWT menyuruh Malaikat maut mencabut roh mereka.
Riwayat Muhammad bin Ka’ab dari seorang dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Kemudian ALLAH SWT berfirman: “Harus mati Jibril, Mika’il, Israfil dan juga Hamalatul ‘Arsyi.” Kemudian ALLAH SWT bertanya: “Hai Malaikat Maut, siapakah yang masih tinggal dari makhluk-Ku?” Malaikat Maut menjawab: “Engkau Dzat Yang Hidup yang tidak akan mati, tinggal hamba-Mu yang lemah, malaikat maut.” ALLAH SWT berfirman: “Hai Malaikat Maut, tidakkah kau mendengar Firman-Ku: “Kullu nafsin dza’iqatul maut. (Yang artinya): “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.” “Wahai malaikat maut, kamu adalah salah satu dari makhluk-makhluk-Ku. Aku jadikan engkau untuk tugasmu itu, dan kini matilah engkau.”
Maka matilah Malaikat Maut diperintah mencabut nyawanya sendiri, maka ia sendiri, tiba-tiba ia menjerit, yang andaikata waktu itu makhluk lain masih hidup niscaya mereka semua akan mati karena jeritan Malaikat Maut itu, lalu ia berkata: “Andaikan saya mengetahui bahwa pencabutan roh itu seberat ini niscaya aku akan lebih lunak ketika mencabut roh-roh orang mukmin.” Kemudian matilah Malaikat Maut dan tiada tinggal satupun dari makhluk ALLAH SWT. Kemudian ALLAH SWT berfirman kepada dunia yang rendah ini: “Dimanakah raja-raja dan putera-putera raja, dimanakah raksasa-raksasa dan putera-putera raksasa yang makan rezeki-Ku tetapi menyembah selain Aku.” Kemudian ALLAH SWT berfirman: “Limanil mulkil yaum? Lillahilwahidil qahhar.” (Yang artinya): “Siapakah yang mempunyai kekuasaan pada hari ini?” Pertanyaan ini tidak ada yang menjawab, maka ALLAH SWT sendiri menjawab: “Hanya bagi ALLAH Yang Tunggal dan Memaksa segala sesuatu.”
Kemudian ALLAH SWT menyuruh langit menurunkan hujan bagaikan air mani lelaki selama empat puluh hari, sehingga air telah menggenang di atas segala sesuatu setinggi hasta, maka ALLAH SWT menumbuhkan makhluk bagaikan tumbuhnya sayur-sayuran sehingga sempurna kerangka badannya sebagaimana semula dahulu, kemudian ALLAH SWT. menyuruh (berseru): “Hiduplah hai Israfil dan Hamalatul Arsyi.” Maka hiduplah mereka. Lalu ALLAH SWT. menyuruh Israfil meletakkan sangkakala di mulutnya, lalu ALLAH SWT menyuruh Israfil meniupnya untuk membangkitkan, maka keluarlah roh-roh bagaikan lebah telah memenuhi angkasa antara langit dan bumi, lalu masuklah roh itu ke dalam jasad di dalam hidung, maka bumi mengeluarkan mereka.
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Saya pertama orang yang keluar dari bumi.” Dalam hadits lain: “Sesungguhnya ALLAH SWT jika telah menghidupkan Malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, maka mereka pergi ke kubur Nabi Muhammad s.a.w. membawa buraq dan perhiasan-perhiasan surga maka terbuka bumi untuk Baginda Rasulullah s.a.w. dan ketika melihat Jibril segera bertanya: “Ya Jibril, bagaimana ummatku? (Apakah yang diperbuat oleh ALLAH SWT terhadap ummatku?) Jawab Jibril: “Terimalah kabar gembira, karena kau pertama yang keluar dari bumi.” Kemudian ALLAH SWT menyuruh Israfil meniup sangkakala, tiba-tiba serentak mereka bangkit melihat keadaan.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan: “Maka keluarlah mereka dari kubur mereka dalam keadaan telanjang bulat, menuju kepada Tuhan mereka, kemudian berhenti di suatu tempat selama 70 tahun, ALLAH SWT membiarkan mereka, tidak melihat atau memutuskan keadaan mereka, mereka menangis sehingga habis air mata, dan mengeluarkan darah dan peluh sehingga banjir sampai ke mulut, kemudian mereka dipanggil ke Mahsyar, mereka berlarian menuju panggilan itu, maka apabila telah berkumpul semua makhluk, jin, manusia, dan lain-lainnya, tiba-tiba terdengar suara yang keras dari langit, maka terbuka langit dunia dan turun daripadanya sepenuh penduduk bumi dari para Malaikat, dan mereka langsung berbaris, lalu bertanya: “Apakah ada di antara kamu yang membawa perintah Tuhan untuk hisab?” Dijawab: “Tidak ada.” Kemudian turun ahli langit kedua dan berbaris pula, kemudian turun penduduk langit ketiga, dan seterusnya sampai langit ketujuh, masing-masing berlipat dari yang sebelumnya dan semua Malaikat itu melindungi penduduk bumi.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Sesungguhnya ALLAH SWT akan menyuruh langit dunia maka terbelah dan mengeluarkan semua Malaikat yang ada di dalamnya, maka turun semuanya dan mengepung bumi dengan apa yang ada di bumi, kemudian langit kedua dengan isinya, kemudian yang ketiga dengan isinya, kemudian yang keempat dengan isinya, kemudian yang kelima dengan isinya, kemudian yang keenam dengan isinya sehinggalah merupakan tujuh barisan Malaikat, setengahnya dikepung oleh setangahnya, sehingga penduduk jika pergi kemana saja mereka mendapati tujuh barisan Malaikat itu seperti mana firman ALLAH SWT: “Ya ma’syaral jinni wal insi inis tatha’ tum an tanfudzu min aqtharissamawati wal ardhi fan fudzu la tanfudzuna illa bisulthan.” (Yang artinya) : “Hai para jin dan manusia jika kamu dapat menembus langit dan bumi, maka silakan menembusnya. Dan kamu tidak akan menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
Firman ALLAH SWT lagi: “Wayauma tasyaqqaqussama’u bil ghomami wanuzzilal malaikatu tanzila.” (Yang artinya): “Dan pada hari terbelahnya langit dengan awan, dan diturunkan para Malaikat dengan seketika.”
Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ALLAH SWT telah berfirman: “Hai para jin dan manusia, aku nasihatkan kepadamu, sesungguhnya yang tercatat dalam Lembaran hanya amalmu sendiri, karena itu siapa yang mendapatkan di dalamnya kebaikan, hendaklah mengucapkan : Alhamdulillah dan siapa yang mendapat lain dari itu, maka jangan menyalahkan yang lain kecuali dirinya sendiri. Kemudian ALLAH menyuruh jahannam, maka keluar daripadanya binatang yang panjang mengkilat gelap lalu berkata-kata.”
Maka ALLAH berfirman: “Alam a’had ilaikum ya bani Adama alla ta’budusy syaithana innahu lakum aduwwun mubin. Wa ani’buduni hadza shiraatum mustaqim. Walaqad a adholla minkum jibilla katsiera afalam takuni ta’qilun. Hadzihi jahannamullati kuntum tu’aduun. Ish lauhal yauma bima kuntum takfurun. (Yang artinya: “Tidak, Aku telah berpesan kepadamu: Jangan menyembah setan, sesungguhnya ia musuhmu yang nyata. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus. Dan ia telah menyesatkan ummat-ummat yang banyak dari kamu. Apakah kamu tidak berakal (berfikir) dan menyadarinya. Inilah neraka jahannam yang telah diancamkan (Peringatan) kepadamu. Masuklah kamu kini, oleh sebab kekafiranmu.”
Maka pada saat itu bertekuk lutut tiap-tiap ummat, sebagaimana firman ALLAH SWT: “Wa tara kulla ummatin jatsiyatan kullu ummatin tud’a ila kitabiha.” (Yang artinya): “Disini kamu melihat tiap-tiap ummat (orang) bertekuk lutut, tiap ummat dipanggil untuk menerima suratan amalnya.” Lalu ALLAH SWT memutuskan pada semua makhluk-Nya. Dan antara binatang-binatang buas atau ternak, sehingga kambing-kambing yang tidak bertanduk diberi hak membalas kambing yang bertanduk, kemudian diperintahkan menjadi tanah semua binatang-binatang itu. Dan di saat itu orang kafir berkata: “Aduh sekiranya aku menjadi tanah.” Kemudian ALLAH SWT memutuskan antara semua hamba-Nya.
Nafi’ dari Ibn Umar r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Manusia akan dibangkitkan kembali kepada Tuhan pada hari kiamat, sebagaimana keadaan mereka ketika dilahirkan dari perut ibunya telanjang bulat. Siti Aisyah berkata: “Laki-laki dan perempuan berkumpul ya Rasullullah? Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ya.” Siti Aisyah berkata: “Alangkah malunya, kemaluanku dapat dilihat setengah pada setengahnya.” Sambil menepuk bahu Aisyah Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Hai puteri dari putera Abu Quhafah, kesibukan orang-orang pada saat itu tidak memungkinkan akan melihat itu, orang-orang pada mengarahkan pandangan ke langit, berdiri selama empat puluh tahun tidak makan, tidak minum, ada yang berkeringat sampai tumit, sampai betis, sampai perut dan ada sampai mulut, karena lamanya berhenti, kemudian berdiri para Malaikat mengelilingi ‘Arasy, lalu ALLAH SWT menyuruh menyerukan nama fulan bin fulan, maka semua yang hadir melihat-lihat orangnya, lalu keluar orang itu untuk menghadapi Tuhan Rabbul ‘Alamiin.
Dan bila telah melihat Rabbul ‘Alamiin dipanggil orang-orang yang pernah dianiaya oleh orang itu untuk diberikan amal kebaikannya kepada orang-orang yang teraniaya itu, karena pada saat itu tidak ada pembayaran dengan mas, perak (dinar, dirham), maka orang-orang selalu menagih sehingga habis amalnya, maka diambilkan dari dosa-dosa orang-orang yang dianiaya itu untuk dipikulkan kepadanya, kemudian jika selesai semua maka diperintahkan: “Kembali ke tempatmu dalam neraka hawiyah (jahannam) karena pada hari ini tidak ada dhulum (penganiyaan), sesungguhnya ALLAH amat segera perhitungan-Nya. Maka pada saat itu tidak ada seorang Malaikat yang muqarrab atau Nabi dan Rasul melainkan merasa bahwa tidak akan selamat, kecuali jika mendapat perlindungan ALLAH SWT.”
Mu’adz bin Jabal r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Laa tazulu qadamaa abdin hatta yus’ala an arba. An umrihi fima afnaahu wa’an jasadihi fima ablaahu wa’an ilmihi ma amila bihi wa’an maalihi min aina iktasabahu wafima anfaqahu.” (Yang artinya): “Tidak dapat bergerak kaki seorang hamba sehingga ditanya tentang empat: Umurnya digunakan apa sampai habis. Dan badannya dalam apa ia rusakkan. Dan ilmunya untuk apa ia pergunakan (apakah diamalkan). Dan hartanya darimana ia dapat dan kemana ia keluarkan.”
Ikrimah berkata: “Seorang ayah akan memegang anaknya pada hari kiamat dan berkata: “Saya ayahmu ketika di dunia.” Maka anak itu memuji kebaikannya lalu ayah itu berkata: “Hai anak, kini saya berhajat kepada amalmu yang sekecil dzarrah, kalau-kalau saya dapat selamat dengan itu dari apa yang kau lihat ini.” Jawab anaknya: “Saya juga takut dari apa yang kau takutkan itu karena itu tidak dapat memberikan kepadamu sedikitpun.” Lalu sang ayah pergi kepada isterinya dan berkata kepadanya: “Saya dahulu suamimu di dunia.” Maka dipuji oleh isterinya, lalu berkata: “Saya ini minta kepadamu satu amal, kalau-kalau saya boleh selamat dari apa yang kau lihat ini.” Jawab isterinya: “Saya juga takut dari itu terhadap diriku seperti engkau.” Sebagaimana firman ALLAH SWT. yang berbunyi: “Wain tad’u muts qalatun ila himliha laa yuhmal minhu syai’un walaukaana dza qurba.” (Yang artinya): “Dan orang yang berat pikulannya itu jika memanggil orang lain untuk memikulkan sebagian, tidak akan dipikulkannya sedikitpun, meskipun yang dipanggil itu kerabat yang dekat.”
Ibn Mas’ud berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang berbunyi: “Innal kafir layul jamu biaroqihi walau ilaannar. (Yang artinya): “Orang kafir akan tenggelam dalam peluhnya karena lamanya hari itu sehingga ia berdoa: “Ya Tuhan, kasihanilah aku, meskipun masuk ke dalam neraka.”
Abu Ja’far meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada seorang nabi melainkan ia mempunyai doa yang mustajab, dan semuanya sudah menggunakan doa itu di dunia, sedang saya masih menyimpan doa itu, untuk saya gunakan sebagai syafa’at bagi ummatku pada hari kiamat. Ingatlah bahwa sayalah yang terkemuka dari semua anak Adam dan itu bukan bangga, dan saya juga yang pertama bangkit dari bumi, juga bukan karena bangga, dan panji Alhamdu di tanganku pada hari kiamat yang dibawahnya ada Adam dan anak cucunya, juga tidak bangga dengan itu.“
“Pada kiamat kesukaran dan kerisauan manusia akan bertambah dahsyat sehingga mereka datang pada Nabi Adam a.s. dan berkata: “Hai Abulbasyar (Ayah dari semua manusia), berikan syafa’atmu (bantuanmu) bagi kami dengan minta Tuhan, supaya segera menyelesaikan kami ini. Adam as. menjawab: “Itu bukan bagianku. Aku telah diusir keluar dari surga karena dosaku, dan kini aku tidak memikirkan sesuatu kecuali diriku sendiri, lebih baik kamu pergi kepada Nuh a.s. karena ia sebagai Nabi yang pertama. Maka mereka pergi kepada Nuh as. dan berkata: “Tolonglah kamu mintakan kepada Tuhan supaya lekas membebaskan kami.” Nabi Nuh a.s. jawab: “Bukan bagianku, saya telah mendoakan penduduk bumi sehingga tenggelam semuanya, dan kini tidak ada yang aku pikirkan kecuali diriku sendiri, tetapi kamu lebih baik pergi kepada Nabi Ibrahim a.s. Khalilullah. Maka pergilah mereka kepada Nabi Ibrahim a.s. dan berkata: “Tolonglah kami di sisi Tuhan supaya segera memutuskan urusan kami.” Jawab Nabi Ibrahim a.s: “Itu bukan urusanku sebab saya telah dusta tiga kali.”
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ketiga-tiganya itu karena mempertahankan agama ALLAH yaitu ketika ia diajak ke upacara kaumnya, lalu ia menyatakan: “Inni saqiem (Sesungguhnya saya sakit), kali kedua ketika berkata: “Bal fa’alahu kabiruhum hadza.” (Yang bermaksud) “Bahwa yang merusak berhala-berhala ini hanya inilah yang terbesar dan kali ketiga ketika isterinya akan diganggu oleh Raja yang zalim, lalu ia berkata: “Ini saudaraku.”
“Karena itu kini tidak ada sesuatu yang merisaukan hatiku kecuali bagaimana nasibku, tetapi kamu pergi kepada Musa a.s sebagai Kalimullah yang langsung mendengar firman-firman ALLAH. Maka mereka langsung pergi kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: “Tolonglah kami, gunakan syafa’atmu untuk menghadap Tuhan supaya menyelesaikan urusan kami ini.” Jawab Nabi Musa a.s.: “Itu bukan urusanku, saya pernah membunuh orang tanpa hak, dan kini aku tidak memikirkan kecuali nasib diriku, tetapi kamu pergi kepada Nabi Isa a.s. Ruhullah dan Kalimatullah.”
Maka segera mereka pergi kepada Nabi Isa a.s dan berkata: “Berilah jasa syafa’atmu. Mintalah kepada Tuhan supaya segera meringankan penderitaan kami ini.” Jawabnya: “Saya telah diangkat bersama ibuku oleh orang-orang sebagai Tuhan, dan kini tidak ada sesuatu yang merisaukan aku kecuali urusanku sendiri, tetapi bagaimana pendapatmu kalau ada barang terbungkus dan ditutup, apakah dapat mencapai barang itu jika tidak dibuka penutupnya?” Mereka menjawab: “Tidak. Maka ia berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad s.a.w. itu penutup dari semua nabi-nabi, dan ALLAH telah mengampunkan baginya apa yang lalu dan yang kemudian, lebih baik kamu pergi kepadanya. Maka datanglah orang-orang itu kepadaku, lalu saya jawab kepada mereka: “Baiklah, sayalah yang akan membantu sehingga ALLAH mengizinkan bagi siapa yang dikehendakinya dan diridhainya, maka tinggal sekehendak ALLAH.”
Kemudian bila ALLAH hendak menyelesaikan makhluk-Nya, maka ada seruan: “Dimanakah Muhammad dan ummat-ummatnya?” Maka kamilah yang terakhir di dunia, dan yang pertama-tama hisabnya pada hari kiamat. Lalu aku berdiri bersama ummat-ummatku, maka ummat-ummat itu membukakan jalan untuk kami, sehingga ada suara, hampir saja ummat ini semuanya merupakan nabi-nabi, kemudian aku maju ke pintu surga dan mengetuknya, lalu ditanya: “Siapakah itu?” Jawabku: “Nabi Muhammad Rasullullah.” Lalu dibukakan dan segera aku masuk dan bersujud kepada Tuhan serta memuja muji kepada Tuhan dengan pujian yang belum pernah diucapkan oleh seorang pun sebelumku, kemudian aku diperintah: Irfa’ ra’saka wa qul yusina’ wasai tu’tha, wasy fa tusyaffa.” (Yang artinya): “Angkatlah kepalamu, dan katakan akan didengar, dan mintalah akan diberikan, syafa’atmu akan diterima.” Maka saya memberikan syafa’atku pada orang-orang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah atau jagung dari iman keyakinan di samping syahadat Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah.”
Umar bin Khaththab r.a. ketika masuk ke masjid bertemu dengan Ka’bul Ahbar sedang memberikan nasihat pada orang ramai, maka Umar berkata kepadanya: “Berilah kami nasihat dan cerita-cerita yang dapat menambahkan takut kepada ALLAH SWT.” Maka Ka’bul Ahbar berkata: “Sesungguhnya ada Malaikat-malaikat yang dijadikan oleh ALLAH SWT. berdiri tegak tidak pernah membongkokkan punggung mereka, dan yang lain sujud tidak pernah mengangkat kepalanya sehingga ditiup sangkakala, dan mereka bertasbih: “Subhanakallahumma wabihamdika ma abadnaaka haqqa ibadatia wa haqqa ma yanbaghi laka an tu’bada.” (Yang artinya): “Maha suci Engkau ya ALLAH dan segala puji bagi-Mu, kami tidak dapat beribadat kepada-Mu sepenuh ibadat yang layak kepada-Mu, yang layak bagi-Mu untuk disembah.”
“Demi ALLAH yang jiwaku ada ditangannya, neraka jahannam akan diperdekatkan pada hari kiamat lalu bergemuruh dan bila telah dekat ia bergemuruh dengan satu suara dan di saat itu tidak ada seorang nabi atau orang yang mati syahid melainkan ia bertekuk lutut jatuh, maka tiap nabi, syahid, atau siddiq hanya berdoa: “Ya ALLAH, saya tidak minta kecuali keselamatan diriku sehingga nabi Ibrahim lupa pada Ismail dan Ishak sambil berkata: “Ya Tuhan, aku khalilullah Ibrahim,” dan pada saat itu andaikan engkau, hai putera Khaththab mempunyai seperti amal tujuh puluh nabi, niscaya kau mengira bahwa dirimu tidak akan selamat.” Maka menangislah semua yang hadir.
Ketika Umar melihat keadaan itu, lalu Umar berkata: “Hai Ka’ab, berikan kepada kami kabar yang menggembirakan.” Maka berkata Ka’ab: Sesungguhnya bagi ALLAH SWT ada 313 syari’ah, tidak seorang yang menghadap kepada ALLAH SWT. dengan salah satu syari’at itu asal disertai dengan Kalimat Laa ilaha illallah melainkan pasti dimasukkan oleh ALLAH SWT ke dalam surga demi ALLAH, andaikan kamu tahu besarnya rahmat ALLAH SWT, niscaya kamu malas beramal. Hai saudara-saudara, bersiap-siaplah menghadapi hari kiamat itu dengan amal yang saleh, dan menjauhi maksiat sebab tidak lama kau akan menghadapi kiamat dan menyesal terhadap masa hidupmu yang terbuang sia-sia, ketahuilah bahwa bila kau mati berarti telah tiba hari kiamatmu, sebagaimana kata Almughirah bin Syu’bah: “Kamu menantikan hari kiamat, padahal kiamatmu ialah saat kematianmu.”
Alqomah bin Qays ketika hadir janazah lalu ia berdiri di atas kubur dan berkata: “Adapun hamba ini maka telah tiba kiamatnya, sebab seorang mati maka melihat segala persoalan hari kiamat, yaitu surga, neraka dan Malaikat, dan ia tidak dapat berbuat suatu amal, maka ia bagaikan seorang yang berada pada hari kiamat, dan ia akan bangkit pada hari kiamat menurut keadaannya di saat matinya, maka sesungguhnya untung siapa yang penghabisan amalnya kebaikan.”
Abu Bakar Alwaasithi berkata: “Keuntungan yang besar itu dalam tiga perkara yaitu hidup, mati, dan kiamat. Adapun keuntungan hidup yaitu bila digunakan dalam taat kepada ALLAH SWT, dan keuntungan mati bila ia mati dalam kalimat Syahadat yaitu Laa ilaha illallah dan keuntungan hari kiamat bila bangkit dari kubur disambut dengan berita bahwa surga tersedia untuknya.”
Yahya bin Mu’adz Arrazi ketika dibacakan di majelisnya ayat yang berbunyi: “Yauma nahsyurul muttqina ilarrahmani. Wa nasuqul mujrimina ila jahannama wirda.” (Yang artinya): “Pada hari kiamat itu Kami akan menghantar orang yang taqwa menghadap Arrahman (ALLAH SWT.) berkendaraan, sedang orang-orang yang durhaka Kami iring ke neraka berjalan kaki dan merasa haus.”
Lalu ia berkata: “Tenang-tenanglah hai manusia, kamu kelak akan dihadapkan kepada ALLAH SWT. berduyun-duyun, dan menghadap pada ALLAH SWT satu persatu, dan akan ditanya semua amalmu secara terperinci kalimat demi kalimat, sedang para wali dihantar menghadap pada ALLAH SWT berkendaraan, dan orang-orang yang durhaka didorong ke neraka jahannam berbondong-bondong, dan semua akan terjadi bila bumi telah dilenyapkan, dan tiba Tuhanmu sedang Malaikat berbaris-baris, dan dihidangkan jahannam sebagai ancaman. Saudara-saudaraku, berhati-hatilah kamu dari kengerian sehari yang perkiraannya sama dengan lima puluh ribu tahun (di dunia), hari yang menggetarkan, duka cita, dan menyesal. Itulah hari yang besar, hari bangkitnya semua manusia untuk menghadap kepada Rabbul ‘Alamiin, hari perhitungan dan pertimbangan dan pertanyaan, hari kegoncangan, yang pasti, yang menakutkan, hari kebangkitan, hari dimana tiap manusia akan melihat apa yang telah dilakukannya.”
“Hari dimana semua manusia dalam berbagai bentuk akan melihat amal perbuatannya, hari dimana wajah manusia putih berseri-seri dan lain wajah hitam, hari dimana seseorang tidak dapat menolong yang lainnya, dan tidak berguna segala tipu daya, hari dimana seorang ayah tidak dapat membantu anaknya sedikit pun, hari dimana bahayanya bertebaran meluas, hari dimana tidak diterima uzur orang-orang yang zalim dan tetap mereka mendapat kutukan (laknat) serta siksa yang keji, pada hari dimana tiap manusia harus mempertahankan dirinya sendiri, pada hari dimana tiap ibu akan lalai terhadap bayi yang disusuinya, bahkan tiap ibu yang mengandung akan menggugurkan kandungannya dan orang-orang bagaikan orang mabuk tetapi tidak mabuk kerana minum arak, hanya kerana ngerinya siksaan ALLAH SWT. yang sangat keras.”
Muqatil bin Sulaiman berkata: “Makhluk akan berdiri menanti pada hari kiamat selama seratus tahun, tenggelam dalam keringatnya sendiri dan seratus tahun dalam kegelapan mereka bingung sedang seratus tahun lagi sibuk bagaikan gelombang mengajukan tuntutan kepada Tuhan. Sesungguhnya hari kiamat itu sekitar lima ribu tahun, tetapi bagi seorang mukmin yang ikhlas bagaikan sesaat, karena itu wahai orang yang sehat akal hendaklah sabar terhadap penderitaan dunia dalam melaksanakan taat kepada ALLAH SWT untuk memudahkan bagimu segala kesukaran-kesukaran hari kiamat.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Diantara dua kali tiupan sangkakala itu jarak empat puluh tahun (Tiupan untuk mematikan dan membangkitkan semula). Kemudian ALLAH SWT menurunkan hujan air bagaikan mani orang lelaki, maka timbul-lah orang-orang mati bagaikan timbulnya tanaman (sayur-sayuran).”
Abul-Laits juga telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ketika ALLAH SWT telah selesai menjadikan langit dan bumi, ALLAH SWT menjadikan sangkakala dan diserahkan kepada Malaikat Israfil, maka ia meletakkannya di mulutnya sambil melihat ke ‘Arasy menantikan bilakah ia diperintahkan.” Saya bertanya: “Ya Rasulullah, apakah shur (sangkakala) itu?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya bertanya lagi: “Bagaimana besarnya?” Rasullullah s.a.w. menjawab: “Sangat besar bulatannya, demi ALLAH yang mengutusku sebagai Nabi s.a.w. besar bulatannya itu seluas langit dengan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali yaitu pertama Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan), Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan) dan Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”
Dalam riwayat Ka’ab hanya dua kali tiupan, yaitu mematikan dan membangkitkan. Firman ALLAH SWT yang berbunyi: “Wa yauma yunfakhu fafazi’a man fissamawati waman fil ardhi illa man sya ALLAH, (Yang artinya): “Dan pada hari ditiup sangkakala maka terkejut takut semua yang di langit dan yang di bumi, kecuali yang dikehendaki oleh ALLAH” (Surah An-Naml : 87)
Dan pada saat itu tergoncangnya bumi, dan manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya dan yang menyusui lupa terhadap bayinya, dan anak-anak segera beruban dan setan-setan laknatullah berlarian. Maka keadaan itu berlaku beberapa lama, kemudian ALLAH SWT menyuruh Israfil meniup sangkakala kedua.
Firman ALLAH SWT yang berbunyi: “Wa nufikhafishshuri fasha’iqa man fissamawati waman fil ardhi illa man sya ALLAH Tsumma nufikha fihi ukhra fa idza hum qiyamun yandhurun,” (Yang artinya): “Dan ketika ditiup sangkakala maka matilah semua yang dilangit dan bumi kecuali yang dikehendaki ALLAH, kemudian ditiup lagi, tiba-tiba mereka bangun dan melihat.” (Surah Azzumar : 68)
Mereka yang dikecualikan itu ialah roh orang-orang yang mati syahid, Jibril, Mika’il, Israfil, dan Hamalatul Arsyi, serta Malaikat maut, sehingga ketika ditanya oleh ALLAH SWT: “Siapakah yang masih tinggal dari makhluk-Ku?” Padahal ALLAH SWT lebih mengetahui. Jawab Malaikat maut: “Ya Tuhan, Engkau yang hidup, yang tidak mati, tinggal malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, Hamalatul Arsyi, dan aku.” Maka ALLAH SWT menyuruh Malaikat maut mencabut roh mereka.
Riwayat Muhammad bin Ka’ab dari seorang dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Kemudian ALLAH SWT berfirman: “Harus mati Jibril, Mika’il, Israfil dan juga Hamalatul ‘Arsyi.” Kemudian ALLAH SWT bertanya: “Hai Malaikat Maut, siapakah yang masih tinggal dari makhluk-Ku?” Malaikat Maut menjawab: “Engkau Dzat Yang Hidup yang tidak akan mati, tinggal hamba-Mu yang lemah, malaikat maut.” ALLAH SWT berfirman: “Hai Malaikat Maut, tidakkah kau mendengar Firman-Ku: “Kullu nafsin dza’iqatul maut. (Yang artinya): “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.” “Wahai malaikat maut, kamu adalah salah satu dari makhluk-makhluk-Ku. Aku jadikan engkau untuk tugasmu itu, dan kini matilah engkau.”
Maka matilah Malaikat Maut diperintah mencabut nyawanya sendiri, maka ia sendiri, tiba-tiba ia menjerit, yang andaikata waktu itu makhluk lain masih hidup niscaya mereka semua akan mati karena jeritan Malaikat Maut itu, lalu ia berkata: “Andaikan saya mengetahui bahwa pencabutan roh itu seberat ini niscaya aku akan lebih lunak ketika mencabut roh-roh orang mukmin.” Kemudian matilah Malaikat Maut dan tiada tinggal satupun dari makhluk ALLAH SWT. Kemudian ALLAH SWT berfirman kepada dunia yang rendah ini: “Dimanakah raja-raja dan putera-putera raja, dimanakah raksasa-raksasa dan putera-putera raksasa yang makan rezeki-Ku tetapi menyembah selain Aku.” Kemudian ALLAH SWT berfirman: “Limanil mulkil yaum? Lillahilwahidil qahhar.” (Yang artinya): “Siapakah yang mempunyai kekuasaan pada hari ini?” Pertanyaan ini tidak ada yang menjawab, maka ALLAH SWT sendiri menjawab: “Hanya bagi ALLAH Yang Tunggal dan Memaksa segala sesuatu.”
Kemudian ALLAH SWT menyuruh langit menurunkan hujan bagaikan air mani lelaki selama empat puluh hari, sehingga air telah menggenang di atas segala sesuatu setinggi hasta, maka ALLAH SWT menumbuhkan makhluk bagaikan tumbuhnya sayur-sayuran sehingga sempurna kerangka badannya sebagaimana semula dahulu, kemudian ALLAH SWT. menyuruh (berseru): “Hiduplah hai Israfil dan Hamalatul Arsyi.” Maka hiduplah mereka. Lalu ALLAH SWT. menyuruh Israfil meletakkan sangkakala di mulutnya, lalu ALLAH SWT menyuruh Israfil meniupnya untuk membangkitkan, maka keluarlah roh-roh bagaikan lebah telah memenuhi angkasa antara langit dan bumi, lalu masuklah roh itu ke dalam jasad di dalam hidung, maka bumi mengeluarkan mereka.
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Saya pertama orang yang keluar dari bumi.” Dalam hadits lain: “Sesungguhnya ALLAH SWT jika telah menghidupkan Malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, maka mereka pergi ke kubur Nabi Muhammad s.a.w. membawa buraq dan perhiasan-perhiasan surga maka terbuka bumi untuk Baginda Rasulullah s.a.w. dan ketika melihat Jibril segera bertanya: “Ya Jibril, bagaimana ummatku? (Apakah yang diperbuat oleh ALLAH SWT terhadap ummatku?) Jawab Jibril: “Terimalah kabar gembira, karena kau pertama yang keluar dari bumi.” Kemudian ALLAH SWT menyuruh Israfil meniup sangkakala, tiba-tiba serentak mereka bangkit melihat keadaan.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan: “Maka keluarlah mereka dari kubur mereka dalam keadaan telanjang bulat, menuju kepada Tuhan mereka, kemudian berhenti di suatu tempat selama 70 tahun, ALLAH SWT membiarkan mereka, tidak melihat atau memutuskan keadaan mereka, mereka menangis sehingga habis air mata, dan mengeluarkan darah dan peluh sehingga banjir sampai ke mulut, kemudian mereka dipanggil ke Mahsyar, mereka berlarian menuju panggilan itu, maka apabila telah berkumpul semua makhluk, jin, manusia, dan lain-lainnya, tiba-tiba terdengar suara yang keras dari langit, maka terbuka langit dunia dan turun daripadanya sepenuh penduduk bumi dari para Malaikat, dan mereka langsung berbaris, lalu bertanya: “Apakah ada di antara kamu yang membawa perintah Tuhan untuk hisab?” Dijawab: “Tidak ada.” Kemudian turun ahli langit kedua dan berbaris pula, kemudian turun penduduk langit ketiga, dan seterusnya sampai langit ketujuh, masing-masing berlipat dari yang sebelumnya dan semua Malaikat itu melindungi penduduk bumi.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Sesungguhnya ALLAH SWT akan menyuruh langit dunia maka terbelah dan mengeluarkan semua Malaikat yang ada di dalamnya, maka turun semuanya dan mengepung bumi dengan apa yang ada di bumi, kemudian langit kedua dengan isinya, kemudian yang ketiga dengan isinya, kemudian yang keempat dengan isinya, kemudian yang kelima dengan isinya, kemudian yang keenam dengan isinya sehinggalah merupakan tujuh barisan Malaikat, setengahnya dikepung oleh setangahnya, sehingga penduduk jika pergi kemana saja mereka mendapati tujuh barisan Malaikat itu seperti mana firman ALLAH SWT: “Ya ma’syaral jinni wal insi inis tatha’ tum an tanfudzu min aqtharissamawati wal ardhi fan fudzu la tanfudzuna illa bisulthan.” (Yang artinya) : “Hai para jin dan manusia jika kamu dapat menembus langit dan bumi, maka silakan menembusnya. Dan kamu tidak akan menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
Firman ALLAH SWT lagi: “Wayauma tasyaqqaqussama’u bil ghomami wanuzzilal malaikatu tanzila.” (Yang artinya): “Dan pada hari terbelahnya langit dengan awan, dan diturunkan para Malaikat dengan seketika.”
Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ALLAH SWT telah berfirman: “Hai para jin dan manusia, aku nasihatkan kepadamu, sesungguhnya yang tercatat dalam Lembaran hanya amalmu sendiri, karena itu siapa yang mendapatkan di dalamnya kebaikan, hendaklah mengucapkan : Alhamdulillah dan siapa yang mendapat lain dari itu, maka jangan menyalahkan yang lain kecuali dirinya sendiri. Kemudian ALLAH menyuruh jahannam, maka keluar daripadanya binatang yang panjang mengkilat gelap lalu berkata-kata.”
Maka ALLAH berfirman: “Alam a’had ilaikum ya bani Adama alla ta’budusy syaithana innahu lakum aduwwun mubin. Wa ani’buduni hadza shiraatum mustaqim. Walaqad a adholla minkum jibilla katsiera afalam takuni ta’qilun. Hadzihi jahannamullati kuntum tu’aduun. Ish lauhal yauma bima kuntum takfurun. (Yang artinya: “Tidak, Aku telah berpesan kepadamu: Jangan menyembah setan, sesungguhnya ia musuhmu yang nyata. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus. Dan ia telah menyesatkan ummat-ummat yang banyak dari kamu. Apakah kamu tidak berakal (berfikir) dan menyadarinya. Inilah neraka jahannam yang telah diancamkan (Peringatan) kepadamu. Masuklah kamu kini, oleh sebab kekafiranmu.”
Maka pada saat itu bertekuk lutut tiap-tiap ummat, sebagaimana firman ALLAH SWT: “Wa tara kulla ummatin jatsiyatan kullu ummatin tud’a ila kitabiha.” (Yang artinya): “Disini kamu melihat tiap-tiap ummat (orang) bertekuk lutut, tiap ummat dipanggil untuk menerima suratan amalnya.” Lalu ALLAH SWT memutuskan pada semua makhluk-Nya. Dan antara binatang-binatang buas atau ternak, sehingga kambing-kambing yang tidak bertanduk diberi hak membalas kambing yang bertanduk, kemudian diperintahkan menjadi tanah semua binatang-binatang itu. Dan di saat itu orang kafir berkata: “Aduh sekiranya aku menjadi tanah.” Kemudian ALLAH SWT memutuskan antara semua hamba-Nya.
Nafi’ dari Ibn Umar r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Manusia akan dibangkitkan kembali kepada Tuhan pada hari kiamat, sebagaimana keadaan mereka ketika dilahirkan dari perut ibunya telanjang bulat. Siti Aisyah berkata: “Laki-laki dan perempuan berkumpul ya Rasullullah? Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ya.” Siti Aisyah berkata: “Alangkah malunya, kemaluanku dapat dilihat setengah pada setengahnya.” Sambil menepuk bahu Aisyah Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Hai puteri dari putera Abu Quhafah, kesibukan orang-orang pada saat itu tidak memungkinkan akan melihat itu, orang-orang pada mengarahkan pandangan ke langit, berdiri selama empat puluh tahun tidak makan, tidak minum, ada yang berkeringat sampai tumit, sampai betis, sampai perut dan ada sampai mulut, karena lamanya berhenti, kemudian berdiri para Malaikat mengelilingi ‘Arasy, lalu ALLAH SWT menyuruh menyerukan nama fulan bin fulan, maka semua yang hadir melihat-lihat orangnya, lalu keluar orang itu untuk menghadapi Tuhan Rabbul ‘Alamiin.
Dan bila telah melihat Rabbul ‘Alamiin dipanggil orang-orang yang pernah dianiaya oleh orang itu untuk diberikan amal kebaikannya kepada orang-orang yang teraniaya itu, karena pada saat itu tidak ada pembayaran dengan mas, perak (dinar, dirham), maka orang-orang selalu menagih sehingga habis amalnya, maka diambilkan dari dosa-dosa orang-orang yang dianiaya itu untuk dipikulkan kepadanya, kemudian jika selesai semua maka diperintahkan: “Kembali ke tempatmu dalam neraka hawiyah (jahannam) karena pada hari ini tidak ada dhulum (penganiyaan), sesungguhnya ALLAH amat segera perhitungan-Nya. Maka pada saat itu tidak ada seorang Malaikat yang muqarrab atau Nabi dan Rasul melainkan merasa bahwa tidak akan selamat, kecuali jika mendapat perlindungan ALLAH SWT.”
Mu’adz bin Jabal r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Laa tazulu qadamaa abdin hatta yus’ala an arba. An umrihi fima afnaahu wa’an jasadihi fima ablaahu wa’an ilmihi ma amila bihi wa’an maalihi min aina iktasabahu wafima anfaqahu.” (Yang artinya): “Tidak dapat bergerak kaki seorang hamba sehingga ditanya tentang empat: Umurnya digunakan apa sampai habis. Dan badannya dalam apa ia rusakkan. Dan ilmunya untuk apa ia pergunakan (apakah diamalkan). Dan hartanya darimana ia dapat dan kemana ia keluarkan.”
Ikrimah berkata: “Seorang ayah akan memegang anaknya pada hari kiamat dan berkata: “Saya ayahmu ketika di dunia.” Maka anak itu memuji kebaikannya lalu ayah itu berkata: “Hai anak, kini saya berhajat kepada amalmu yang sekecil dzarrah, kalau-kalau saya dapat selamat dengan itu dari apa yang kau lihat ini.” Jawab anaknya: “Saya juga takut dari apa yang kau takutkan itu karena itu tidak dapat memberikan kepadamu sedikitpun.” Lalu sang ayah pergi kepada isterinya dan berkata kepadanya: “Saya dahulu suamimu di dunia.” Maka dipuji oleh isterinya, lalu berkata: “Saya ini minta kepadamu satu amal, kalau-kalau saya boleh selamat dari apa yang kau lihat ini.” Jawab isterinya: “Saya juga takut dari itu terhadap diriku seperti engkau.” Sebagaimana firman ALLAH SWT. yang berbunyi: “Wain tad’u muts qalatun ila himliha laa yuhmal minhu syai’un walaukaana dza qurba.” (Yang artinya): “Dan orang yang berat pikulannya itu jika memanggil orang lain untuk memikulkan sebagian, tidak akan dipikulkannya sedikitpun, meskipun yang dipanggil itu kerabat yang dekat.”
Ibn Mas’ud berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang berbunyi: “Innal kafir layul jamu biaroqihi walau ilaannar. (Yang artinya): “Orang kafir akan tenggelam dalam peluhnya karena lamanya hari itu sehingga ia berdoa: “Ya Tuhan, kasihanilah aku, meskipun masuk ke dalam neraka.”
Abu Ja’far meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada seorang nabi melainkan ia mempunyai doa yang mustajab, dan semuanya sudah menggunakan doa itu di dunia, sedang saya masih menyimpan doa itu, untuk saya gunakan sebagai syafa’at bagi ummatku pada hari kiamat. Ingatlah bahwa sayalah yang terkemuka dari semua anak Adam dan itu bukan bangga, dan saya juga yang pertama bangkit dari bumi, juga bukan karena bangga, dan panji Alhamdu di tanganku pada hari kiamat yang dibawahnya ada Adam dan anak cucunya, juga tidak bangga dengan itu.“
“Pada kiamat kesukaran dan kerisauan manusia akan bertambah dahsyat sehingga mereka datang pada Nabi Adam a.s. dan berkata: “Hai Abulbasyar (Ayah dari semua manusia), berikan syafa’atmu (bantuanmu) bagi kami dengan minta Tuhan, supaya segera menyelesaikan kami ini. Adam as. menjawab: “Itu bukan bagianku. Aku telah diusir keluar dari surga karena dosaku, dan kini aku tidak memikirkan sesuatu kecuali diriku sendiri, lebih baik kamu pergi kepada Nuh a.s. karena ia sebagai Nabi yang pertama. Maka mereka pergi kepada Nuh as. dan berkata: “Tolonglah kamu mintakan kepada Tuhan supaya lekas membebaskan kami.” Nabi Nuh a.s. jawab: “Bukan bagianku, saya telah mendoakan penduduk bumi sehingga tenggelam semuanya, dan kini tidak ada yang aku pikirkan kecuali diriku sendiri, tetapi kamu lebih baik pergi kepada Nabi Ibrahim a.s. Khalilullah. Maka pergilah mereka kepada Nabi Ibrahim a.s. dan berkata: “Tolonglah kami di sisi Tuhan supaya segera memutuskan urusan kami.” Jawab Nabi Ibrahim a.s: “Itu bukan urusanku sebab saya telah dusta tiga kali.”
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ketiga-tiganya itu karena mempertahankan agama ALLAH yaitu ketika ia diajak ke upacara kaumnya, lalu ia menyatakan: “Inni saqiem (Sesungguhnya saya sakit), kali kedua ketika berkata: “Bal fa’alahu kabiruhum hadza.” (Yang bermaksud) “Bahwa yang merusak berhala-berhala ini hanya inilah yang terbesar dan kali ketiga ketika isterinya akan diganggu oleh Raja yang zalim, lalu ia berkata: “Ini saudaraku.”
“Karena itu kini tidak ada sesuatu yang merisaukan hatiku kecuali bagaimana nasibku, tetapi kamu pergi kepada Musa a.s sebagai Kalimullah yang langsung mendengar firman-firman ALLAH. Maka mereka langsung pergi kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: “Tolonglah kami, gunakan syafa’atmu untuk menghadap Tuhan supaya menyelesaikan urusan kami ini.” Jawab Nabi Musa a.s.: “Itu bukan urusanku, saya pernah membunuh orang tanpa hak, dan kini aku tidak memikirkan kecuali nasib diriku, tetapi kamu pergi kepada Nabi Isa a.s. Ruhullah dan Kalimatullah.”
Maka segera mereka pergi kepada Nabi Isa a.s dan berkata: “Berilah jasa syafa’atmu. Mintalah kepada Tuhan supaya segera meringankan penderitaan kami ini.” Jawabnya: “Saya telah diangkat bersama ibuku oleh orang-orang sebagai Tuhan, dan kini tidak ada sesuatu yang merisaukan aku kecuali urusanku sendiri, tetapi bagaimana pendapatmu kalau ada barang terbungkus dan ditutup, apakah dapat mencapai barang itu jika tidak dibuka penutupnya?” Mereka menjawab: “Tidak. Maka ia berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad s.a.w. itu penutup dari semua nabi-nabi, dan ALLAH telah mengampunkan baginya apa yang lalu dan yang kemudian, lebih baik kamu pergi kepadanya. Maka datanglah orang-orang itu kepadaku, lalu saya jawab kepada mereka: “Baiklah, sayalah yang akan membantu sehingga ALLAH mengizinkan bagi siapa yang dikehendakinya dan diridhainya, maka tinggal sekehendak ALLAH.”
Kemudian bila ALLAH hendak menyelesaikan makhluk-Nya, maka ada seruan: “Dimanakah Muhammad dan ummat-ummatnya?” Maka kamilah yang terakhir di dunia, dan yang pertama-tama hisabnya pada hari kiamat. Lalu aku berdiri bersama ummat-ummatku, maka ummat-ummat itu membukakan jalan untuk kami, sehingga ada suara, hampir saja ummat ini semuanya merupakan nabi-nabi, kemudian aku maju ke pintu surga dan mengetuknya, lalu ditanya: “Siapakah itu?” Jawabku: “Nabi Muhammad Rasullullah.” Lalu dibukakan dan segera aku masuk dan bersujud kepada Tuhan serta memuja muji kepada Tuhan dengan pujian yang belum pernah diucapkan oleh seorang pun sebelumku, kemudian aku diperintah: Irfa’ ra’saka wa qul yusina’ wasai tu’tha, wasy fa tusyaffa.” (Yang artinya): “Angkatlah kepalamu, dan katakan akan didengar, dan mintalah akan diberikan, syafa’atmu akan diterima.” Maka saya memberikan syafa’atku pada orang-orang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah atau jagung dari iman keyakinan di samping syahadat Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah.”
Umar bin Khaththab r.a. ketika masuk ke masjid bertemu dengan Ka’bul Ahbar sedang memberikan nasihat pada orang ramai, maka Umar berkata kepadanya: “Berilah kami nasihat dan cerita-cerita yang dapat menambahkan takut kepada ALLAH SWT.” Maka Ka’bul Ahbar berkata: “Sesungguhnya ada Malaikat-malaikat yang dijadikan oleh ALLAH SWT. berdiri tegak tidak pernah membongkokkan punggung mereka, dan yang lain sujud tidak pernah mengangkat kepalanya sehingga ditiup sangkakala, dan mereka bertasbih: “Subhanakallahumma wabihamdika ma abadnaaka haqqa ibadatia wa haqqa ma yanbaghi laka an tu’bada.” (Yang artinya): “Maha suci Engkau ya ALLAH dan segala puji bagi-Mu, kami tidak dapat beribadat kepada-Mu sepenuh ibadat yang layak kepada-Mu, yang layak bagi-Mu untuk disembah.”
“Demi ALLAH yang jiwaku ada ditangannya, neraka jahannam akan diperdekatkan pada hari kiamat lalu bergemuruh dan bila telah dekat ia bergemuruh dengan satu suara dan di saat itu tidak ada seorang nabi atau orang yang mati syahid melainkan ia bertekuk lutut jatuh, maka tiap nabi, syahid, atau siddiq hanya berdoa: “Ya ALLAH, saya tidak minta kecuali keselamatan diriku sehingga nabi Ibrahim lupa pada Ismail dan Ishak sambil berkata: “Ya Tuhan, aku khalilullah Ibrahim,” dan pada saat itu andaikan engkau, hai putera Khaththab mempunyai seperti amal tujuh puluh nabi, niscaya kau mengira bahwa dirimu tidak akan selamat.” Maka menangislah semua yang hadir.
Ketika Umar melihat keadaan itu, lalu Umar berkata: “Hai Ka’ab, berikan kepada kami kabar yang menggembirakan.” Maka berkata Ka’ab: Sesungguhnya bagi ALLAH SWT ada 313 syari’ah, tidak seorang yang menghadap kepada ALLAH SWT. dengan salah satu syari’at itu asal disertai dengan Kalimat Laa ilaha illallah melainkan pasti dimasukkan oleh ALLAH SWT ke dalam surga demi ALLAH, andaikan kamu tahu besarnya rahmat ALLAH SWT, niscaya kamu malas beramal. Hai saudara-saudara, bersiap-siaplah menghadapi hari kiamat itu dengan amal yang saleh, dan menjauhi maksiat sebab tidak lama kau akan menghadapi kiamat dan menyesal terhadap masa hidupmu yang terbuang sia-sia, ketahuilah bahwa bila kau mati berarti telah tiba hari kiamatmu, sebagaimana kata Almughirah bin Syu’bah: “Kamu menantikan hari kiamat, padahal kiamatmu ialah saat kematianmu.”
Alqomah bin Qays ketika hadir janazah lalu ia berdiri di atas kubur dan berkata: “Adapun hamba ini maka telah tiba kiamatnya, sebab seorang mati maka melihat segala persoalan hari kiamat, yaitu surga, neraka dan Malaikat, dan ia tidak dapat berbuat suatu amal, maka ia bagaikan seorang yang berada pada hari kiamat, dan ia akan bangkit pada hari kiamat menurut keadaannya di saat matinya, maka sesungguhnya untung siapa yang penghabisan amalnya kebaikan.”
Abu Bakar Alwaasithi berkata: “Keuntungan yang besar itu dalam tiga perkara yaitu hidup, mati, dan kiamat. Adapun keuntungan hidup yaitu bila digunakan dalam taat kepada ALLAH SWT, dan keuntungan mati bila ia mati dalam kalimat Syahadat yaitu Laa ilaha illallah dan keuntungan hari kiamat bila bangkit dari kubur disambut dengan berita bahwa surga tersedia untuknya.”
Yahya bin Mu’adz Arrazi ketika dibacakan di majelisnya ayat yang berbunyi: “Yauma nahsyurul muttqina ilarrahmani. Wa nasuqul mujrimina ila jahannama wirda.” (Yang artinya): “Pada hari kiamat itu Kami akan menghantar orang yang taqwa menghadap Arrahman (ALLAH SWT.) berkendaraan, sedang orang-orang yang durhaka Kami iring ke neraka berjalan kaki dan merasa haus.”
Lalu ia berkata: “Tenang-tenanglah hai manusia, kamu kelak akan dihadapkan kepada ALLAH SWT. berduyun-duyun, dan menghadap pada ALLAH SWT satu persatu, dan akan ditanya semua amalmu secara terperinci kalimat demi kalimat, sedang para wali dihantar menghadap pada ALLAH SWT berkendaraan, dan orang-orang yang durhaka didorong ke neraka jahannam berbondong-bondong, dan semua akan terjadi bila bumi telah dilenyapkan, dan tiba Tuhanmu sedang Malaikat berbaris-baris, dan dihidangkan jahannam sebagai ancaman. Saudara-saudaraku, berhati-hatilah kamu dari kengerian sehari yang perkiraannya sama dengan lima puluh ribu tahun (di dunia), hari yang menggetarkan, duka cita, dan menyesal. Itulah hari yang besar, hari bangkitnya semua manusia untuk menghadap kepada Rabbul ‘Alamiin, hari perhitungan dan pertimbangan dan pertanyaan, hari kegoncangan, yang pasti, yang menakutkan, hari kebangkitan, hari dimana tiap manusia akan melihat apa yang telah dilakukannya.”
“Hari dimana semua manusia dalam berbagai bentuk akan melihat amal perbuatannya, hari dimana wajah manusia putih berseri-seri dan lain wajah hitam, hari dimana seseorang tidak dapat menolong yang lainnya, dan tidak berguna segala tipu daya, hari dimana seorang ayah tidak dapat membantu anaknya sedikit pun, hari dimana bahayanya bertebaran meluas, hari dimana tidak diterima uzur orang-orang yang zalim dan tetap mereka mendapat kutukan (laknat) serta siksa yang keji, pada hari dimana tiap manusia harus mempertahankan dirinya sendiri, pada hari dimana tiap ibu akan lalai terhadap bayi yang disusuinya, bahkan tiap ibu yang mengandung akan menggugurkan kandungannya dan orang-orang bagaikan orang mabuk tetapi tidak mabuk kerana minum arak, hanya kerana ngerinya siksaan ALLAH SWT. yang sangat keras.”
Muqatil bin Sulaiman berkata: “Makhluk akan berdiri menanti pada hari kiamat selama seratus tahun, tenggelam dalam keringatnya sendiri dan seratus tahun dalam kegelapan mereka bingung sedang seratus tahun lagi sibuk bagaikan gelombang mengajukan tuntutan kepada Tuhan. Sesungguhnya hari kiamat itu sekitar lima ribu tahun, tetapi bagi seorang mukmin yang ikhlas bagaikan sesaat, karena itu wahai orang yang sehat akal hendaklah sabar terhadap penderitaan dunia dalam melaksanakan taat kepada ALLAH SWT untuk memudahkan bagimu segala kesukaran-kesukaran hari kiamat.”
Rabu, 06 April 2011
Minggu, 27 Maret 2011
Selasa, 15 Maret 2011
Untaian mutiara kalam Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alhaddad
Usahakanlah kalian selalu bersahabat dengan orang-orang yang berakhlak mulia agar dapat meneladani perilaku baik mereka dan sekaligus bisa mendapatkan keuntungan dari perbuatan dan ucapan mereka. Biasakanlah pula untuk berkunjung kepada mereka yang masih hidup dan berziarah kepada mereka yang telah tiada disertai dengan rasa penuh keikhlasan, penghormatan dan penghargaan. Dengan demikian kalian akan mendapatkan manfaat dan limpahan barokah dari Alloh melalui keberadaan mereka.Pada jaman ini memang sedikit sekali manfaat yang dapat diperoleh melalui orang-orang yang sholeh. Hal ini dikarenakan kurangnya penghormatan dan lemahnya husnudz dzon terhadap mereka. Itulah sebabnya kebanyakan orang di jaman sekarang tidak memperoleh barokah dari mereka itu. Orang jaman sekarang tidak bisa lagi menyaksikan berbagai peristiwa menakjubkan yang muncul karena kedudukan mereka yang telah memperoleh karomah dari Alloh SWT. Merekapun mengira bahwa pada jaman ini sudah tidak ada lagi orang-orang yang disebut sebagai wali. Dugaan yang demikian itu tidaklah benar sama sekali. Alhamdulillah para wali itu masih cukup banyak, yang tampak maupun yang tersembunyi. Namun tak ada yang bisa mengenali identitas mereka itu kecuali orang-orang yang telah mendapatkan anugerah cahaya kebenaran dan kebesaran Alloh dalam hatinya dan mereka selalu berhusnudz dzon kepada mereka.Hindarilah bergaul dengan orang-orang yang berakhlak buruk dan bermoral rendah. Jauhilah pergaulan dengan mereka, karena dengan menjadikan mereka itu sahabat kalian, maka hanya kerugian dan malapetakalah yang akan kalian alami di dunia maupun di akherat. Pergaulan seperti itulah yang membengkokkan sesuatu yang lurus, dan yang lebih parah lagi mengakibatkan rusaknya hati dan agama. Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh seorang penyair :Orang yang berkudis takkan menjadi sehat kembali akibat bergaul dengan orang yang sehat,namun orang yang sehat gampang tertular penyakit akibat bergaul dengan orang yang berkudis.
[Disarikan dari Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, terjemahan dari Al-Washoyah An-Naafi'ah, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Alhaddad, Cetakan I, Penerbit Kharisma]
Penghormatan kepada Sholihin
Kalam Al Habib Abdulloh bin Husin Bin Thohir Ba alawy
Kalam Al Habib Abdulloh bin Husin Bin Thohir Ba alawy
Bawalah dirimu senantiasa berkumpul dengan orang-orang yang sholeh dan biasakanlah berperilaku sebagaimana perilaku mereka. Ambillah manfaat dari perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkataan mereka. Biasakanlah berziarah kepada mereka baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal disertai dengan sebaik-baiknya penghormatan dan husnudz dzon (berbaik sangka) yang tulus. Dengan cara itulah orang yang mengunjungi mereka akan mendapat manfaat dan karunia melalui mereka. Sesungguhnya begitu sedikitnya kemanfaatan yang didapatkan oleh orang-orang sekarang dari keberadaan para sholihin karena sedikitnya rasa penghormatan dan husnudz dzon mereka kepada para sholihin sehingga mereka tidak mendapatkan keberkatan dari para sholihin.
Mereka juga tidak pernah menyaksikan karomah-karomah para sholihin sehingga mereka mengatakan bahwa tidak ada Auliya’ pada jaman ini. Padahal alhamdulillah mereka para wali Alloh saat ini begitu banyak, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi. Tidaklah mengetahui keberadaan mereka kecuali orang-orang yang hatinya diberi cahaya oleh Alloh dengan cahaya – cahaya penghormatan dan husnudz dzon kepada para sholihin. Oleh karena itu tepatlah yang dikatakan dalam suatu penuturan “Almadad fil masyhad”. Maksud dari “Almadad fil masyhad” adalah besarnya karunia dan pemberian Alloh kepada seseorang yang didapatkan dari para sholihin adalah tergantung dari seberapa besar orang tersebut memandang dan memposisikan mereka di dalam dirinya. Jika dia melihat para sholihin tadi dengan suudz dhon (berburuk sangka), maka karunia dan pemberian yang ia dapatkan tentunya sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Jika ia melihat mereka dengan pandangan husnudz dhon, maka ia akan mendapatkan karunia dan pemberian dari Alloh sebesar rasa husnudz dzonnya kepada mereka.
Mereka juga tidak pernah menyaksikan karomah-karomah para sholihin sehingga mereka mengatakan bahwa tidak ada Auliya’ pada jaman ini. Padahal alhamdulillah mereka para wali Alloh saat ini begitu banyak, baik yang kelihatan maupun yang tersembunyi. Tidaklah mengetahui keberadaan mereka kecuali orang-orang yang hatinya diberi cahaya oleh Alloh dengan cahaya – cahaya penghormatan dan husnudz dzon kepada para sholihin. Oleh karena itu tepatlah yang dikatakan dalam suatu penuturan “Almadad fil masyhad”. Maksud dari “Almadad fil masyhad” adalah besarnya karunia dan pemberian Alloh kepada seseorang yang didapatkan dari para sholihin adalah tergantung dari seberapa besar orang tersebut memandang dan memposisikan mereka di dalam dirinya. Jika dia melihat para sholihin tadi dengan suudz dhon (berburuk sangka), maka karunia dan pemberian yang ia dapatkan tentunya sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Jika ia melihat mereka dengan pandangan husnudz dhon, maka ia akan mendapatkan karunia dan pemberian dari Alloh sebesar rasa husnudz dzonnya kepada mereka.
Senin, 14 Maret 2011
Mengapa harus ke Yaman?? - Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad
Mengapa harus ke Yaman? Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalatul Muawanah mengatakan, ‘Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negerinya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat.
Mengapa Imam al-Muhajir memilih Hadramaut yang terletak di Negara Yaman sebagai tempat hijrah ? Imam al-Muhajir memilih Hadramaut sebagai tempat hijrahnya, kerana beberapa faktor, pertama peristiwa hijrahnya al-Husein dari Madinah ke Kufah, di mana Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasihati agar beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan siap untuk mendukung Imam Husein. Sejarah membuktikan bahwa keturunan Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana.
Kedua, keistimewaan penduduk Yaman yang banyak disebut dalam alquran dan hadits. Allah swt berfirman : Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas (pemeberian-Nya) lagi maha mengetahui. Dari Jabir, Rasulullah saw ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’. Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah saw, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’. Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang berbunyi : Dan serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan yang jauh. Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang’. Allah swt berfirman dalam surah al-Nashr ayat 2 : ‘Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai‘. Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman, mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu’minin dengan jumlah tujuh ratus orang’. Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah swt dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah ahlu Yaman itu ? Rasulullah saw menjawab : Suatu kaum yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman, kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman’. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah saw berkata, ‘Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi’. Dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, ‘Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini’. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah saw, ‘Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman.
Faktor lain yang menjadi pertimbangan Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman dikarenakan masyarakat Yaman mempunyai hati yang suci dan tabiat yang lembut serta bumi yang penuh dengan keberkahan, sehingga Rasulullah saw memerintahkan hijrah ke negeri Yaman jika telah terjadi fitnah. Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi saw bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’. Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’. Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah saw, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi saw : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’. Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencitaiku, sesiapa yang membenci mereka bererti telah membenciku’.
Kamis, 10 Maret 2011
Adab Bergaul - Untaian mutiara kalam Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alhaddad-
Budayakanlah dalam dirimu sifat selalu menahan diri dan suka memberi maaf atas segala kekhilafan teman-temanmu. Jangan sekali-kali menunjukkan sikap kasar dan kaku, sebab yang demikian itu termasuk sifat-sifat manusia-manusia tiran yang sombong. Jangan pula kamu mengecam kepada seseorang diantara mereka yang melanggar hak pribadimu atau kurang memperhatikannya. Kecuali apabila ia memang seorang yang benar-benar tulus dalam persahabatannya denganmu dan telah teruji kesetiaannya. Akan tetapi apabila pelanggaran tersebut menyangkut hak Alloh atau hak-hak hamba-Nya, maka dalam hal ini jangan begitu saja memaafkan mereka. Hanya saja tetap diperlukan pertimbangan berkaitan dengan keadaan mereka dalam hal kuat atau lemahnya keyakinan keberagamaan mereka. Maka hendaknya kamu bersikap lebih lunak terhadap para pemula diantara mereka yang masih lemah agamanya, dibandingkan dengan sikapmu berhadapan dengan mereka yang sudah kuat. Akan tetapi bagaimanapun juga sikap lemah lembut merupakan hal yang secara mutlak lebih banyak mengandung kebaikan, maka hendaknya kamu selalu lebih mengutamakannya dalam kamu bersikap.Bergaullah bersama teman-temanmu dengan cara sebaik-baiknya. Lupakan saja kebanyakan diantara kesalahan-kesalahan mereka, khususnya kesalahan tertentu yang tidak akan terlepas darinya kecuali orang-orang khusus diantara hamba-hamba Alloh yang sholeh. Jadikanlah bincang-bincangmu bersama mereka itu selalu tentang hal-hal yang yang mendatangkan manfaat bagi mereka, yang mampu meluruskan agama mereka dan memenuhi hajat mereka dalam kehidupan dunia dan akherat mereka. Jangan berbincang dengan mereka dalam hal-hal selain itu, kecuali pada saat-saat tertentu dengan niat hanya sekedar menghibur hati, sepanjang memang diperlukan.Dan seandainya ada orang yang menyakiti hatimu, dengan ucapan ataupun perbuatan, memaki-makimu, menyebut tentangmu dengan sesuatu yang buruk di hadapan khalayak, maka janganlah membalasnya dengan perlakuan yang serupa. hendaknya kamu memaafkannya dan melepaskannya dari dosa kesalahannya itu, tanpa menyisakan sedikitpun rasa dendam atau permusuhan terhadapnya. Seperti itulah akhlak yang layak disandang orang-orang shiddiqqin. Atau jika kamu tidak mampu berbuat demikian, maka serahkan saja urusannya kepada Alloh dan cukuplah Alloh sebagai pembelamu terhadapnya.
Disarikan dari Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, terjemahan dari Al-Washoyah An-Naafi'ah, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Alhaddad
Kamis, 03 Maret 2011
JADWAL MAULID NABI MUHAMMAD SAW 2011
30 Januari 2011
Jam 14.00 WIB
Khaul Al-Imam Al-'Arifbillah Al-Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad ( Mbah Priuk )
6 Februari 2011
07.00 - selesai
Maulid di Majelis Ta'lim Nurul Washilah ( KH. Ahmad Hafidz Hasyim )
Jl. almubarok 1 no. 16 cipulir kebayoran lama jakarta selatan (masuk dari SESKOAL)
6 Februari 2011
Ba'da Zhuhur
Maulid di Majelis Ta'lim Tsaqofa ( Habibb Abubakar bin Sayyidil Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf )
Jl. Perkutut, Bukit Duri Puteran
Tebet - Jakarta Selatan
13 februari 2011
Jam 08.00
Khaul Al-'Allamah Al-Habib Hasan bin Abdullah Asy-Syathiri
di Kediaman Al-Habib Abdurrahman bin Syekh Al-'Athos
Jl. Asem Baris - Jakarta Selatan
14 Februari 2011 M
Jam 18.30 WIB - selesai
MAULID AKBAR NABI BESAR MUHAMMAD SAW yg ke 1484 (dari tahun gajah 1 s/d tahun Hijriyyah 1432)
Jl.Raya Petamburan, T.Abang - Jakarta Pusat
PANITIA :
AL-HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB, FPI, LPI, MPI, FMI, MIS, MT.AL-ISHLAH & MT.PETAMBURAN
14 februari 2011
Jam 20.00 WIB
MAULID NABI MUHAMMAD SAW dan HUT MAJELIS NURUL MUSTHOFA KE-15
di Gelora Bung Karno - Senayan - Jakarta
15 Februari 2011
Jam 07.00 WIB
DZIKIR AKBAR MAJELIS RASULULLAH SAW dan MAULID TERBESAR DI DUNIA
di Monumen Nasional ( MONAS ) - Jakarta
15 Februari 2011
Jam 08.00 WIB
Mauid di Kediamana Habib Ali bin Sahil
Jl.KS Tubun 3 blakang hotel ibis..slipi..
27 Feb 2011
Jam 16.00
Al Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad(Habib Kuncung)
Di Belakang Mall Kalibata.
28 Feb 2011
Jam 09.00
Pon-Pes Al Khoirot Habib Nagieb bin Syekh Abubakar bin Salim
Jl.Pengasinan, Bekasi Timur.
28 Feb 2011
Jam 16.00
Habib Husin bin Ali Alatas
Jl.Bulu,Condet.
01 Mar 2011
Jam 09.00
Khoul Al Habib Ali bin Husin Alatas
Jl.Buluh, Condet.
01 Mar 2011
Jam 18.00
Di Keramat Empang, Bogor.
02 Mar 2011
Jam 09.00
Khoul Al Imam Al Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Kramat Empang,Bogor).
02 Mar 2011
Jam 18.00
Ziarah Kemakam Guru Besar Islam Indonesia Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, Kwitang.
03 Mar 2011
Jam 09.00
Pon-Pes Al Haromain
Al Habib Hamid bin Abdullah Al kaff
Jl.Ganceng, Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur.
03 Mar 2011
Jam 16.00
Maulid Kamis Akhir Al Habib Ali bin Abdurahman Al Habsyi, Kwitang.
04 Mar 2011
Jam 04.30
Subuh Jamaah di Majelis Ta'lim Al Afaf (Al Habib Ali bin Sayyidil Walid Al Habib Abdurahman Assegaf), Tebet Utara.
04 Mar 2011
Jam 09.00
Gedung Darul Aitam
KH.Mas Mansyur,Tanah Abang, Jakarta Pusat.
05 Mar 2011
Jam 09.00
di Masjid Al Hawi, Condet.
05 Mar 2011
Jam 12.00
Masjid Assalafiyah (Al Habib Hud bin Bagir Alatas)
Kebon Nanas, Jak-Tim.
05 Maret 2011
Jam 20:00 - 23:00
MAJELIS TA'LIM NURUL QOMARIYAH ( Habib Ali Zaeanl Abidin Alaydrus )
di PERUMAHAN CILEDUG INDAH II, PEDURENAN, KARANG TENGAH, CILEDUG, TANGERANG
06 Mar 2011
Jam 09.00
Ziarah Luar Batang (Al Imam Al Habib Husin bin Abubakar Alaydrus).
07 Mar 2011
Jam 09.00
Masjid Kramat Kampung Bandan, Jak-Utara.
07 Mar 2011
Jam 16.00
Khoul Al Habib Salim bin Jindan
di Majelis Ta'lim Habib Salim bin Jindan
Jl.Otista Raya - Jakarta Timur
(sebelah gelanggang olahraga Youth Center).
08 Mar 2011
Jam 09.30
Futuhat At-Thosiah (Alm.Al Habib Alwi bin Abdullah Alatas)
Bulak Kapal,Bekasi Timur.
08 Mar 2011
Jam 09.00
di Masjid Keramat Luar Batang (Khusus Kaum Ibu dan Remaja Putri).
10 Mar 2011
Jam 09.00
Al Habib Salim bin Toha Al Haddad
Jl.Damai, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
12 Mar 2011
Jam 09.00
Majelis Ta'lim Annur (Alm.Al Habib Husin bin Abdullah bin Muhsin Alatas)
Jl. Otista,Tanggerang Kota.
12 Mar 2011
Jam 16.00
di Majelis Dzikir SYAMSI SYUMUS ( Habib Musthofa bin Abdulloh Alaydrus )
Jl.Tebet Timur Dalam Raya No.16.
19 Mar 2011
Jam 18.00
Majelis Al Burdah (Habib Hasyim bin Syekh Abubakar bin Salim)
Jl.Cikoko Jak-Tim.
20 Maret 2011
Jam 08.00 WIB
Maulid Nabi SAW dan Khaul Almarhum Al-Maghfurlah Mu'allim KH. Muhammad Syafi'i Hadzami bin KH. Muhammad Sholeh Roidi Al-Battawie
di JL. KH. Muhammad Syafi'i Hadzami No. 40
Kebayoran Lama - Jakarta Selatan
27 Maret
Jam 8:00 - 11:30
PONPES & MAJLIS TA'LIM "AL KIFAHI AL
TSAQAFY" ( Habib Umar bin Sayyidil Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf )
JL. SAWO RAYA, JL. ROOS TIMUR V NO.27, BUKIT DURI, TEBET, JAK-SEL
Keterangan :
HADIRILAH PERINGATAN MAULID NABI BESAR
MUHAMMAD SAW DI MAJLIS TA'LIM "AL KIFAHI
AL TSAQAFY" KHUSUS KAUM BAPAK & REMAJA
PUTRA
27 Mar 2011
Jam 10.00
Yayasan Al Fachriyyah (Alm Al Habib Novel bin Salim bin Jindan)
Jl. Larangan, Cileduk., Tangerang.
1 April 2011
Ba'da Isya
MAJELIS TA'LIM ANNURUL KASSYAAF (Al Habib Ahmad bin Ali bin Abdurrahman Assegaf) Jl. Munggang. CONDET.
Lapangan Bola RINDAM CONDET RAYA ( Tepat di ujung condet dari arah masuk PGC )
Minggu, 3 April 2011
Jam 09.00 WIB
Maulid Akbar & Haul Ke-IV Al Walid Al Habib Abdurahman bin Ahmad Assegaf
di Majlis Ta'lim Wal Mudzakaroh Al Busyro
Citayam
Semoga Bermanfaat,yang lain segera menyusul...
nb# Jadwal sewaktu-waktu dapat berubah...
Harap di Maklumi...
Ratib Al-Haddad
الإمام القطب عبد الله بن علوي الحداد
Al-Imam Al-Qutub Abdullah bin Alawi Al-Haddad
Ratib Al-Haddad
Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).
Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.
Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, iaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.
Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.
Beberapa kebezaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan sesiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Ameen.
Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W. Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara berkala atau cuai[1]. Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad kerana ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.
الراتب الشهير
للحبيب عبد الله بن علوي الحداد
Ratib Al Haddad
يقول القارئ: الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم - الفاتحة-
1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ
2. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.
3. آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.
4. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
5. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
6. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
7. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ
8. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
9. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ
10. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ
11. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ
12. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا
13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ
14. آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا
15. يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا
16. ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ
17. ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ
18. أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ
19. يـَا عَلِيُّ يـَا كَبِيْرُ يـَا عَلِيْمُ يـَا قَدِيْرُ
يـَا سَمِيعُ يـَا بَصِيْرُ يـَا لَطِيْفُ يـَا خَبِيْرُ.
20. ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ
21. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ
22. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
23. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
24. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.
قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ
25. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد
26. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.
27. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
28. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ - أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.
29. اَلْفَاتِحَةَ
إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.
30. اَلْفَاتِحَة
إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ
31. (ويدعو القارئ):
31. Berdoalah disini apa yang di hajati. :
اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن..
32. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ
انتهى الراتب الشهير
manaqib AL IMAM ALHABIB ABDULLAHBIN AL HADDAD
( Abdullah > Alwi > Muhammad > Ahmad > Abdullah > Muhammad > Alwi > Ahmad Al-Haddad > Abubakar > Ahmad Al-Musrafah > Muhammad > Abdullah > Ahmad Al-Faqih > Abdurrahman > Alwi ’Ammil Faqih > Muhammad Shohib Mirbath > Ali Khali' Qasam > Alwi > Muhammad > Alwi > Ubaidillah > Ahmad AlMuhajir > Isa Ar-Rumi > Muhammad An-Naqib > Ali Al-'Uraidhi > Ja'far Ash-Shodiq > Muhammad Al-Baqir > Ali Zainal Abidin > Husain > Fatimah Az-Zahro > Muhammad SAW )
Habib Abdullah dilahirkan ke dunia pada malam Kamis 5 Shafar 1044 H di pinggiran kota Tarim, sebuah kota terkenal di Hadhramaut, Yaman. Beliau bermadzhab Syafi‘i. Nasabnya bersambung sampai kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib kwh, suami Fatimah binti Rasulillah.
Ayahnya, Habib Alwi bin Muhammad adalah seorang yang saleh dari keturunan orang-orang saleh. Di masa mudanya, beliau berkunjung ke kediaman Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi Shôhibusy Syi‘ib untuk memohon doa, Habib Ahmad berkata, “Anak-anakmu adalah anak-anak kami juga, mereka diberkahi Allah.”
Saat itu Habib Alwi tidak mengerti maksud ucapan Habib Ahmad. Namun, setelah menikahi Salma, cucu dari Habib Ahmad bin Muhammad, Habib Alwi baru sadar bahwa rupanya perkawinan ini yang diisyaratkan oleh Habib Ahmad bin Muhammad dalam ucapannya.
Sebagaimana suaminya, Salma adalah seorang wanita yang sholihah. Dari istrinya ini, Habib Alwi mendapat putra-putri yang baik dan saleh, di antaranya adalah Abdullah.
Ketika Abdullah berusia 4 tahun, ia terserang penyakit cacar. Demikian hebat penyakit itu hingga butalah kedua matanya. Namun, musibah ini sama sekali tidak mengurangi kegigihannya dalam menuntut ilmu. Ia berhasil menghapal Quran dan menguasai berbagai ilmu agama ketika terhitung masih kanak-kanak. Rupanya Allah berkenan menggantikan penglihatan lahirnya dengan penglihatan batin, sehingga kemampuan menghapal dan daya pemahamannya sangat mengagumkan.
Abdullah sejak kecil gemar beribadah dan riyâdhoh. Nenek dan kedua orang tuanya seringkali tidak tega menyaksikan anaknya yang buta ini melakukan berbagai ibadah dan riyâdhoh. Mereka menasihati agar ia berhenti menyiksa diri. Demi menjaga perasaan keluarganya, si kecil Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyâdhoh yang sesungguhnya amat ia gemari. Ia pun kini memiliki lebih banyak waktu untuk bermain-main dengan teman-teman sebayanya. “Subhânallôh, sungguh indah masa kanak-kanak...,” kenang beliau suatu hari.
Di kota Tarim, Abdullah tumbuh dewasa. Bekas-bekas cacar tidak tampak lagi di wajahnya. Beliau berperawakan tinggi, berdada bidang, berkulit putih, dan berwibawa. Tutur bahasanya menarik, sarat dengan mutiara ilmu dan nasihat berharga.
Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya sering melakukan perjalanan untuk menemui kaum ulama. Beliau ra berkata, “Apa kalian kira aku mencapai ini dengan santai? Tidak tahukah kalian bahwa aku berkeliling ke seluruh kota-kota (di Hadramaut) untuk menjumpai kaum sholihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka?”
Beliau juga sangat giat dalam mengajarkan ilmu dan mendidik murid-muridnya. Banyak penuntut ilmu datang untuk belajar kepadanya. Suatu hari beliau berkata, “Dahulu aku menuntut ilmu dari semua orang, kini semua orang menuntut ilmu dariku.”
“Andaikan penghuni zaman ini mau belajar dariku, tentu akan kutulis banyak buku mengenai makna ayat-ayat Quran. Namun, di hatiku ada beberapa ilmu yang tak kutemukan orang yang mau menimbanya.”
Habib Abdullah mengamati bahwa kemajuan zaman justru membuat orang-orang saleh menyembunyikan diri; membuat mereka lebih senang menyibukkan diri dengan Allah. “Zaman dahulu keadaannya baik. “Dagangan” kaum sholihin dibutuhkan masyarakat, oleh karena itu mereka menampakkan diri. Zaman ini telah rusak, masyarakat tidak membutuhkan “dagangan” mereka, karena itu mereka pun enggan menampakkan diri,” papar beliau.
Beliau sangat menyayangi kaum fakir miskin. “Andaikan aku kuasa dan mampu, tentu akan kupenuhi kebutuhan semua kaum fakir miskin. Sebab pada awalnya, agama ini ditegakkan oleh orang-orang mukmin yang lemah.”
Beliau juga berkata, “Dengan sesuap (makanan) tertolaklah berbagai bencana.”
Beliau gemar berdakwah, baik dengan lisan maupun tulisan, kemudian mencontohkannya dalam amal perbuatan. Kegemarannya berdakwah menyebabkan ia banyak bergaul dan melakukan perjalanan. “Sesungguhnya aku tidak ingin bercakap-cakap dengan masyarakat, aku juga tidak menyukai pembicaraan mereka, dan tidak peduli kepada siapa pun dari mereka. Sudah menjadi tabiat dan watakku bahwa aku tidak menyukai kemegahan dan kemasyhuran. Aku lebih suka berkelana di gurun Sahara. Itulah keinginanku; itulah yang kudambakan. Namun, aku menahan diri tidak melaksanakan keinginanku agar masyarakat dapat mengambil manfaat dariku.”
Keaktifannya dalam mendidik dan berdakwah membuatnya digelari Quthbud Da’wah wal Irsyâd. Beliau berkata, “Ajaklah orang awam kepada syariat dengan bahasa syariat; ajaklah ahli syariat kepada tarekat (thorîqoh) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat kepada hakikat (haqîqoh) dengan bahasa hakikat; ajaklah ahli hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah ahlul haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.”
Dalam kehidupannya, beliau juga sering mendapat gangguan dari masyarakat lingkungannya. “Kebanyakan orang jika tertimpa musibah penyakit atau lainnya, mereka tabah dan sabar; sadar bahwa itu adalah qodho dan qodar Allah. Tetapi jika diganggu orang, mereka sangat marah. Mereka lupa, bahwa gangguan-ganguan itu sebenarnya juga merupakan qodho dan qodar Allah, mereka lupa bahwa sesungguhnya Allah hendak menguji dan menyucikan jiwa mereka. Nabi saw bersabda, “Besarnya pahala tergantung pada beratnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Ia akan menguji mereka. Barang siapa ridho, ia akan memperoleh keridhoan-Nya; barang siapa tidak ridho, Allah akan murka kepadanya.”
Habib Abdullah mengetahui bahwa ada beberapa orang yang memakan hidangannya, tetapi juga memakinya. “Perbuatan mereka tidak mempengaruhi sikapku. Aku tidak marah kepada mereka, bahkan mereka kudoakan.”
Habib Abdullah tidak pernah menyakiti hati orang lain, apabila beliau terpaksa harus bersikap tegas, beliau kemudian segera menghibur dan memberikan hadiah kepada orang yang ditegurnya. “Aku tak pernah melewatkan pagi dan sore dalam keadaan benci atau iri pada seseorang,” kata Habib Abdullah.
Beliau lebih suka berpegang pada hadis Nabi saw: “Orang beriman yang bergaul dengan masyarakat dan sabar menanggung gangguannya, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak pula sabar menghadapi gangguannya.”
Beliau menulis dalam syairnya:
Bila Allah mengujimu, bersabarlah
karena itu hak-Nya atas dirimu.
Dan bila Ia memberimu nikmat, bersyukurlah.
Siapa pun mengenal dunia, pasti akan yakin
bahwa dunia tak syak lagi
adalah tempat kesengsaraan dan kesulitan.
Habib Abdullah tidak menyukai kemasyhuran atau kemegahan, beliau juga tidak suka dipuji. “Banyak orang membuat syair-syair untuk memujiku. Sesungguhnya aku hendak mencegah mereka, tetapi aku khawatir tidak ikhlas dalam berbuat demikian. Jadi, kubiarkan mereka berbuat sekehendaknya. Dalam hal ini aku lebih suka meneladani Nabi saw, karena beliau pun tidak melarang ketika sahabatnya membacakan syair-syair pujian kepadanya.”
Suatu hari beliau berkata kepada orang yang melantunkan qoshidah pujian untuk beliau, “Aku tidak keberatan dengan semua pujian ini. Yang ada padaku telah kucurahkan ke dalam samudra Muhammad saw. Sebab, beliau adalah sumber semua keutamaan, dan beliaulah yang berhak menerima semua pujian. Jadi, jika sepeninggal beliau ada manusia yang layak dipuji, maka sesungguhnya pujian itu kembali kepadanya. Adapun setan, ia adalah sumber segala keburukan dan kehinaan. Karena itu setiap kecaman dan celaan terhadap keburukan akan terpulang kepadanya, sebab setanlah penyebab pertama terjadinya keburukan dan kehinaan.”
Beliau tak pernah bergantung pada makhluk dan selalu mencukupkan diri hanya dengan Allah. “Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanan-Nya.” Beliau juga berkata, “Aku tidak melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku menganggap orang itu hanyalah perantara saja.”
Karya dan Kata Mutiara
Meski buta dan sangat sibuk berdakwah, beliau masih sempat menulis buku-buku berikut:
01. An-Nashôihud Dîniyyah
02. Ad-Da’watut Tâmmah
03. Risâlatul Mu’âwanah
04. Al-Fushûlul ‘Ilmiyyah
05. Sabîlul Iddikâr
06. Risâlatul Mudzâkarah
07. Risâlatul Murîd
08. Kitâbul Hikam
09. An-Nafâisul Uluwiyyah
10. Ithâfus Sâil
Karya-karya beliau sarat dengan inti sari ilmu syariat, adab Islami dan tarekat, penjabaran ilmu hakikat, menggunakan ibarat yang jelas dan tata bahasa yang memikat. Semuanya ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Berisi ajaran tasawuf murni. “Aku mencoba menyusunnya dengan ungkapan yang mudah, supaya dekat dengan pemahaman masyarakat, lalu kugunakan kata-kata yang ringan, supaya segera dapat dipahami dan mudah dimengerti oleh kaum khusus maupun awam.”
Beliau selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah. Senantiasa menyertakan amal di samping ilmunya. Pada masa bidâyah-nya (permulaannya ) setiap malam beliau mengunjungi seluruh mesjid di kota Tarim untuk beribadah. Salah seorang yang tinggal berdampingan dengan mesjid tempat beliau ra biasa salat mengatakan, “Setiap malam, ketika penduduk kota ini telah lelap dalam tidurnya, aku selalu mendapati beliau berjalan ke mesjid.”
Sahabat beliau menceritakan, “Suatu hari aku berziarah bersama beliau ke makam Nabiyullôh Hud as. Malam itu seekor kalajengking menyengatku sehingga aku terjaga semalaman. Aku amati malam itu beliau tidak tidur, asyik beribadah sepanjang malam. Waktu kutanyakan hal itu, beliau menjawab bahwa telah tiga puluh tahun lamanya beliau berbuat demikian.
Meskipun Habib Abdullah amat gemar beribadah, beliau tidak suka menceritakan atau memperlihatkan amalnya, kecuali bila keadaan sangat memaksa dan ia ingin agar amal salehnya itu diteladani. Beliau berkata, “Aku sengaja tidak memperlihatkan amal ibadahku, meskipun — alhamdulillâh — aku tidak khawatir terkena riya`. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Ash-Shiddîq (Nabi Yusuf as): “Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena nafsu itu selalu mengajak berbuat kejahatan...”
Seseorang pernah menggambarkan kedudukan beliau dalam dunia tasawuf dengan ungkapan yang indah, yaitu: Dalam dunia tasawuf Imam Al-Ghazali ibarat pemintal kain, Imam Sya’rani ibarat tukang potong dan Sayid Abdullah bin Alwi Al-Haddad adalah penjahitnya.”
Penganut Madzhab Syafi‘i, khususnya di Yaman, berkeyakinan bahwa Habib Abdullah Al-Haddad adalah mujaddid (pembaharu) abad 11 H, pendapat ini difatwakan oleh Ibnu Ziyad, seorang ahli fiqih terkemuka di Yaman yang fatwa-fatwanya disejajarkan dengan tokoh-tokoh fiqih seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli.
Beliau ra merumuskan bacaan dzikir yang dinamainya wirid Al-Lathîf. Wirid ini telah tersebar hampir ke seluruh penjuru Dunia: Mekah, Madinah, Hijaz, Afrika, Indonesia, Malaysia, Eropa, Amerika dll. Di Indonesia, wirid ini nyaris menjadi bacaan yang diwajibkan oleh guru-guru pesantren. Tidak sedikit dari mereka yang enggan beranjak dari tempat duduknya setelah salat Subuh, sebelum menyelesaikan wirid ini. Wirid ini hampir menjadi bacaan resmi umat Islam di pagi hari. Wiridnya yang lain, yang juga tak kalah masyhurnya, adalah Ratib Haddad.
Demikianlah Habib Abdullah Al-Haddad menghabiskan umurnya. Beliau menuntut ilmu dan mengajarkan; berdakwah dan mencontohkan. Sampai akhirnya pada Selasa sore, 7 Dzulqaidah 1132 H di kota Tarim ini juga, beliau ra kembali menghadap Yang Kuasa, meninggalkan banyak murid, karya dan nama harum di dunia. Di kota itu pula, di pemakaman Zanbal, beliau ra dimakamkan. Semoga Allah memberinya kedudukan yang mulia di sisi-Nya dan memberi kita manfaat yang banyak dari ilmu-ilmunya
pesan Sang wali guthb ( Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad )
Didalam Salah satu karya Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yaitu kitab "Risalah Al-Muawanah" Beliau berpesan bahwa :
Hendaklah Kalian wahai sodaraku,Mengingatkan orang yang Lupa dan Memberitahukan orang yang tidak mengetahui,
janganlah engkau enggan untuk melakukannya,walau berat.
janganlah engkau enggn tuk melakukannya seraya berkata "Yang Seharusnya Mengajarkan serta mengingatkan itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya(dengan baik),sementara saya bukan orang yang telah mengamalkan ilmu (dengn baik).
Atau anda berkata "Aku bukan orang yang pantas bertindak seperti itu(mengajar & Mengingatkan)+karena yang demikian itu tugas seorang tokoh atau Pemimpin.
Ketahuilah wahai sodaraku..Bahwa ke-engganan untuk mengajar & mengingatkan adalah tidak lain hanya penyusupan suara/bisikan syaithon,karena mengajarkan serta mengingatkan itu merupakan pengamalan ilmu kita..
Itulah Pesan Sang wali guthb..Semoga kita bisa Melaksanakn pesannya..Aamiin
.
Langganan:
Postingan (Atom)





